Dinkes Jombang Umumkan Hasil Uji Lab Dugaan Keracunan MBG di Mojoagung

Kadisnkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, didampingi Korwil BGN Jombang, Deni Setiawan. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Kasus keracunan yang menimpa puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, Kabupaten Jombang, mulai menemui kejelasan. Hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengungkap adanya kandungan zat berbahaya dan cemaran bakteri pada makanan serta air yang digunakan di lingkungan pesantren.

Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan bahwa nitrit ditemukan dalam sampel telur asin yang dikonsumsi para santri. Ia menegaskan, secara normal makanan tidak seharusnya mengandung zat tersebut karena berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Baca Juga

“Zat nitrit ini bisa menyebabkan mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara tiba-tiba,” ujar Hexawan, Selasa (17/3/2026).

Tak hanya itu, hasil uji juga menunjukkan tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam air yang digunakan sehari-hari di pondok, mulai dari memasak hingga mencuci. Menurut Hexawan, kadar bakteri tersebut seharusnya nol.

Ia menyebutkan bahwa temuan di lapangan menunjukkan angka yang cukup tinggi, yakni antara 1.030 hingga 2.030 per mililiter. Kondisi tersebut dinilai berisiko memicu sakit perut, mual, hingga nyeri pada bagian perut.

Selain nitrit dan E. coli, pemeriksaan terhadap sampel muntahan santri juga menemukan bakteri Bacillus cereus. Meski demikian, Dinkes belum dapat memastikan sumber utama bakteri tersebut karena tidak semua jenis makanan diperiksa dalam pengujian.

Hexawan menjelaskan bahwa fokus pengujian sementara ini meliputi beberapa sampel, seperti telur asin, rawon, air, serta muntahan korban. Dari hasil sementara, telur asin diduga menjadi salah satu pemicu utama kasus keracunan.

Meski begitu, ia mengakui tidak semua santri yang mengonsumsi telur asin mengalami gejala yang sama. Hal ini diduga berkaitan dengan perbedaan kualitas makanan atau distribusinya.

Ia juga menduga keberadaan nitrit dalam telur asin kemungkinan dipengaruhi oleh proses penyimpanan yang kurang baik atau kualitas bahan baku yang tidak terjaga.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinkes Jombang telah memberikan pembinaan kepada pihak pondok, khususnya dalam hal peningkatan sanitasi lingkungan dan perbaikan sistem penyaringan air.

“Kami minta sanitasi ditingkatkan, termasuk pembenahan filter air agar kandungan bakteri bisa ditekan,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan atau SPPG yang terlibat.

Ia menyampaikan bahwa penghentian sementara ini dilakukan sebagai langkah awal evaluasi. Ke depan, pihaknya akan mendorong peningkatan pengawasan, baik dari sisi pengelola pondok maupun penyedia makanan.

Deni juga menambahkan bahwa pengawasan terhadap penyedia makanan di wilayah Jombang akan diperketat, meskipun saat ini masih terkendala keterbatasan jumlah personel.

Menurutnya, perbaikan sistem kontrol kualitas menjadi hal penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

Berita Terkait