Potret Pilu Guru Agama di Jombang, Terjerat Pegadaian Gegara Honor Macet

Guru Agama bertahan hidup dengan cara gadaikan BPKB kendaraan (Ilustrasi AI)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Nasib guru pembina ekstrakurikuler keagamaan di Kabupaten Jombang benar-benar berada di titik terendah. Sejak awal tahun 2026, para pendidik ini belum menerima honor sepeser pun.

Kondisi ini memaksa mereka mengambil langkah nekat demi dapur tetap mengepul. Langkah ekstrem itu mulai dari menggadaikan BPKB motor hingga memilih berhenti mengajar untuk beralih profesi menjadi pedagang.

Baca Juga

​Bagi para guru yang hanya mengandalkan honor sebesar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per bulan, keterlambatan selama empat bulan adalah musibah bagi ekonomi keluarga.

​N, salah satu guru yang terdampak, membeberkan realita pahit rekan sejawatnya yang kini terjerat kesulitan finansial akut.

​“Banyak yang sudah berkeluarga terpaksa menggadaikan BPKB motor. Bahkan ada yang mau melangsungkan lamaran pun terhambat karena honor tak kunjung cair. Akhirnya, ada yang memilih mundur dan beralih jualan karena tidak kuat lagi,” ungkap N, Kamis (2/4/2026).

​Kondisi ini diperparah dengan kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kesejahteraan guru. Pencairan honor disebut sengaja dipersulit dengan proses revisi berkas yang berulang kali tanpa kejelasan.

“Persyaratan pencairan sekarang terasa dipersulit. Selalu ada saja kesalahan yang harus diperbaiki,” tambahnya.

​Meski statusnya kini hanya ekstrakurikuler, beban kerja mereka tetap setara kegiatan intrakurikuler yang menuntut mereka bersiaga penuh di sekolah. “Semakin ke sini, pembina ekstra mulok Madin merasa tidak ada kejelasan planning ke depan. Teman-teman jadi resah,” tambahnya.

Selain itu, para guru merasa dianaktirikan di tengah gencarnya pengangkatan PPPK untuk posisi lain, sementara nasib mereka yang membina moral siswa justru terabaikan.

“Sekarang ada kabar pengangkatan PPPK untuk pegawai lain seperti SPPG, tapi bagaimana dengan guru honorer yang masih banyak dan belum sejahtera? Dengan gaji segitu, apakah cukup? Tapi kenyataannya masih saja dipersulit,” ungkapnya.

​Padahal, program ini adalah ujung tombak dalam membentuk kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan pemahaman kitab kuning bagi generasi muda di Jombang. Ironisnya, saat guru dituntut mencetak karakter siswa yang baik, kesejahteraan mereka justru dibiarkan terkatung-katung.

“Pelajaran ini membuat anak-anak bisa ngaji, baca kitab, dan mencintai Al-Qur’an. Ini penting sekali, apalagi di zaman sekarang ketika pendidikan agama mulai berkurang,” jelasnya.

Para guru berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, segera memberikan kepastian serta solusi nyata. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal honor, melainkan tentang penghargaan terhadap dedikasi dalam mendidik generasi bangsa.

​Hingga laporan ini disusun, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari, belum memberikan keterangan resmi terkait alasan macetnya honor yang menjadi urat nadi kehidupan para guru tersebut.

TIMELINE BERITA

Berita Terkait