JOMBANG, KabarJombang.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai keluhan, kali ini dari orang tua murid SMPN 2 Jombang. Sebelumnya, keluhan serupa juga muncul dari wali murid di SMPN 1 Jombang. Para orang tua mengeluhkan kualitas makanan yang sering tidak segar, bahkan ada yang menyebut nasi dan lauk yang diterima anak mereka sudah basi.
“Anak saya pulang mengeluh, lauknya asam dan nasinya basi. Kadang juga datangnya telat, jadi anak-anak keburu lapar,” ungkap salah satu orang tua berinisial N.
Ia menambahkan bahwa masalah distribusi juga menjadi sorotan. Pada Senin (1/9/2025), tiga kelas dilaporkan tidak mendapat jatah makan siang karena keterlambatan. Bahkan pada Selasa (2/9/2025), delapan kelas tidak kebagian makanan.
“Ada nasi seperti karak, ada juga yang seperti bubur. Anak-anak bahkan dilarang cerita ke orang tua oleh gurunya kalau makanannya basi atau kurang enak,” jelasnya.
Wali murid lain berinisial W menyayangkan kualitas makanan dari vendor yang sama dengan yang menangani SMPN 1 Jombang. “Makanan yang dikirim diduga sudah basi, ini sangat berbahaya. Kami minta aparat penegak hukum (APH) mengusut kasus ini,” tegasnya pada Rabu (3/9/2025).
Tanggapan Pihak Sekolah dan Vendor
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Sekolah SMPN 2 Jombang, Etik Nurosidah, menyatakan telah menampung semua aspirasi dan langsung mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Puspa Wijaya untuk menyampaikan keluhan.
“Memang manajemen waktunya masih kurang tertata karena program baru berjalan. Pihak vendor sudah meminta maaf atas keterlambatan dan berjanji lebih tepat waktu ke depan. Hari ini sudah terkirim semua, 954 porsi sesuai jumlah siswa,” jelas Etik.
Sementara itu, pihak vendor dari SPPG Yayasan Puspa Wijaya Abadi, Lilis, memberikan klarifikasi. Ia membantah tudingan bahwa makanan yang disediakan basi atau lauknya mentah.
“Tidak ada masalah serius. Hari pertama memang nasi agak lembek, hari kedua sudah lebih baik. Hanya ada keterlambatan waktu distribusi,” ujar Lilis.
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan terjadi karena ada sekolah lain yang tiba-tiba masuk dan meminta kiriman makanan, sehingga mengacaukan jadwal distribusi.
“Soal tudingan lauk basi itu tidak benar, masakan kami sesuai aturan dan sudah dicek oleh Dewan Pendidikan Jombang,” tegasnya.









