Darurat Jalan Rusak Jombang: Harga Mati bagi Pemkab untuk Segera Benahi Meski Anggaran Minim

Kaylilla Faticha (Anggota Legislator Muda 2025 | Rumah Pemuda Inspiratif)
  • Whatsapp

KabarJombang.com – Jalan berlubang. Bunyi decitan rem mendadak. Benturan keras. Lalu… jeritan. “Ketika mendekati lokasi, pengemudi dikejutkan oleh lubang besar di tengah jalan. Secara spontan, ia membelokkan kemudi ke arah kanan, hingga kendaraan menabrak pembatas jembatan dan jatuh ke sungai.”
Begitulah kronologi kecelakaan yang dialami Mohammad Iqbal (22), pengemudi mobil boks yang berusaha menghindari lubang besar di tengah ruas jalan nasional Jombang pada 28 April 2025 (Bagus, 2025). Insiden ini hanyalah satu dari puluhan kasus serupa yang terus terjadi di Jombang. Berapa banyak lagi kecelakaan yang harus terjadi sebelum kita bertindak?

Infrastruktur Rusak = Nyawa Melayang

Baca Juga

Kabupaten Jombang, simpul konektivitas strategis di Jawa Timur, kini menghadapi ancaman serius. Dari total 1.213 km jalan kabupaten, hampir separuhnya sekitar 600 km dalam kondisi rusak ringan hingga berat yang tersebar di hampir setiap kecamatan (Radar Jombang, 2025).

Potret buram ini diperparah dengan banyaknya titik Penerangan Jalan Umum (PJU) yang padam, menciptakan perangkap maut di malam hari. Sepanjang 2024, Jombang mencatat 1.112 kecelakaan dengan 236 korban meninggal, sebagian besar disebabkan kondisi jalan rusak dan lubang (Celah,id, 2025).

Padamnya PJU di beberapa wilayah seperti Ngoro meningkatkan risiko kecelakaan dan kejahatan karena jalan menjadi gelap (JombangBanget, 2025).
Ini bukan sekadar statistik, ini tentang nyawa manusia.

Aspal Rusak, Ekonomi Terhambat

Jalan rusak tidak hanya mempertaruhkan keselamatan, tetapi juga memukul telak perekonomian Jombang. Distribusi barang terhambat, biaya logistik membengkak, dan petani di daerah terpencil semakin terisolasi dari pasar.

Potensi pariwisata seperti Kedung Cinet tetap terkubur karena akses yang buruk. Sementara itu, kendaraan mengalami kerusakan lebih cepat, biaya perawatan melonjak, dan konsumsi BBM meningkat.

Dalam jangka panjang, kondisi ini menggerogoti daya saing ekonomi Jombang yang seharusnya menjadi salah satu penggerak roda ekonomi Jawa Timur. Ketika jalanan rusak, bukan hanya kendaraan yang terhambat pertumbuhan ekonomi juga ikut tersendat.

Anggaran Minim, Solusi Harus Maksimal

Pemerintah Kabupaten Jombang pada 2025 menggelontorkan Rp59,5 miliar untuk memperbaiki 39 ruas jalan dan menambah tim mandor jalan menjadi 10 guna mempercepat perbaikan dan pemeliharaan (Wibisono, 2025).

Namun, kebutuhan riil untuk perbaikan seluruh jalan rusak di Jombang diperkirakan mencapai Rp900 miliar jumlah yang masih sangat jauh dari anggaran yang dialokasikan saat ini (RadarJombang, 2025). Kesenjangan pendanaan ini membutuhkan solusi inovatif dan kerja sama semua pihak.

Solusi Inovatif untuk Tantangan Infrastruktur

1. Kemitraan Publik-Swasta (KPBU)

Skema KPBU telah terbukti efektif dalam pembangunan infrastruktur strategis di Indonesia. Contohnya adalah proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan di Jawa Timur, yang dibangun dengan investasi sebesar Rp 2,58 triliun dan dukungan Viability Gap Fund (VGF) sebesar Rp 818 miliar dari pemerintah.

Proyek ini dirancang untuk melayani lima kabupaten/kota dengan kapasitas total 4.000 liter per detik, yang saat ini telah dimanfaatkan sebesar 900 liter per detik. SPAM Umbulan diharapkan dapat menyediakan air bersih untuk 1,6 juta jiwa atau 320.000 sambungan rumah, dengan kualitas air yang terjamin dan layanan 24 jam secara berkelanjutan (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2021).

Melalui skema KPBU, proyek ini tidak hanya mengurangi beban pembiayaan pemerintah, tetapi juga meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kualitas layanan publik. Keberhasilan SPAM Umbulan menunjukkan bahwa kolaborasi antara sektor publik dan swasta dapat menjadi solusi inovatif dalam menghadapi tantangan infrastruktur di Indonesia.

2. Teknologi Aspal Plastik: Mengatasi Dua Krisis Sekaligus

Volume sampah di TPA Banjardowo, Jombang, mencapai 185,73 ton per hari pada 29 Maret 2025, meningkat dari sekitar 157,33 ton per hari sebelum libur Lebaran (KabarJombang.com, 2025). Situasi ini membutuhkan solusi inovatif yang mengubah masalah menjadi peluang.

Teknologi aspal plastik menawarkan jawaban cemerlang untuk dua masalah sekaligus: jalan rusak dan penumpukan sampah. Di Garut, 431 ton sampah plastik berhasil dikonversi menjadi 50,2 km jalan aspal plastik yang lebih tangguh dan ekonomis. Setiap kilometer jalan dapat menyerap 2,5-5 ton limbah plastik (Nurhalimah, 2025).

Studi Mubarok (2020) menunjukkan bahwa limbah LDPE 3,5% dapat meningkatkan stabilitas aspal hingga 2.320,68 kg. Susanto dkk. (2021) juga menemukan bahwa penambahan limbah PP 6% meningkatkan stabilitas Marshall hingga 3.520,12 kg dan kekakuan campuran.

Pemanfaatan limbah plastik dalam aspal berpotensi mengurangi sampah sekaligus memperkuat kualitas jalan. Namun, pakar lingkungan mengingatkan risiko mikroplastik yang dihasilkan dari pelapukan jalan, yang dapat mencemari ekosistem. Karena studi tentang dampak jangka panjang masih terbatas, prinsip kehati-hatian dan penelitian lanjutan sangat diperlukan (Mongabay, 2017).

Dengan implementasi teknologi ini, Jombang dapat mengatasi lonjakan sampah plastik sekaligus membangun infrastruktur jalan yang lebih berkelanjutan dan tahan lama.

3. Penerangan Jalan Cerdas Berbasis IoT dan Energi Surya

Sistem penerangan jalan cerdas yang mengintegrasikan teknologi IoT dan energi surya memungkinkan pemantauan status lampu jalan secara real-time. Sistem ini memberikan notifikasi instan jika terjadi kerusakan, sehingga perbaikan dapat dilakukan dengan cepat.

Penggunaan energi surya terbukti dapat mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional dan menurunkan biaya operasional secara signifikan. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemanfaatan PLTS dapat menghemat biaya listrik hingga 50% (Powersurya, 2025; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 2024).

Selain itu, optimalisasi pemeliharaan seperti sistem pembersihan otomatis dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi biaya pemeliharaan (Prasetiyo et al., 2025).

4. Sosialisasi dan Kemudahan Akses Layanan

Pemerintah perlu mensosialisasikan penggunaan aplikasi IDJO secara masif dan menyederhanakan antarmukanya agar masyarakat dapat dengan mudah melaporkan kerusakan jalan atau lampu padam secara cepat dan praktis.

5. Tim Pemantau dan Pemeliharaan Infrastruktur

Pembentukan tim mandor jalan oleh Pemerintah Kabupaten Jombang pada 2025 adalah langkah positif untuk mempercepat perbaikan 39 ruas jalan. Namun, ke depan, tim ini perlu diperkuat dengan sistem kerja berkelanjutan dan responsif agar kerusakan kecil tidak berkembang menjadi masalah besar.

Jalan Rusak: Ancaman Nyawa dan Penghambat Ekonomi

Infrastruktur jalan yang rusak di Jombang tidak hanya membahayakan keselamatan warga, seperti terlihat dari ratusan kecelakaan dan puluhan korban jiwa sepanjang tahun lalu, tapi juga memperlambat roda ekonomi. Distribusi barang terganggu, biaya logistik melonjak, dan potensi pariwisata gagal dimanfaatkan optimal.

Solusi Inovatif untuk Infrastruktur Berkelanjutan

Dengan anggaran terbatas sekitar Rp 59,5 miliar, Jombang harus mengandalkan solusi kreatif seperti kemitraan publik-swasta, penggunaan aspal plastik untuk mengurangi limbah sekaligus memperkuat jalan, dan penerangan jalan berbasis energi surya serta IoT. Pendekatan ini diharapkan mempercepat perbaikan, menyelamatkan nyawa, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Ayo Bersama Memperbaiki Jombang

Perbaikan jalan bukan hanya investasi fisik, tapi investasi kemanusiaan dan ekonomi. Dengan sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat, kita bisa memastikan Jombang memiliki infrastruktur yang aman, efisien, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

 

 

Oleh: Kaylilla Faticha (Anggota Legislator Muda 2025 | Rumah Pemuda Inspiratif)

 

Berita Terkait