Jajanan Arem-arem Klenger Jombang, Terapkan Prokes

Sigit penjual Arem-arem klenger, di sekitar Jalan RE Martadinata Kepatihan, Jombang. (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com- Arem-arem yang merupakan jajanan khas dari Kota Kebumen ini ternyata banyak di temukan di Yogyakarta, Solo dan di daerah lain di Jawa termasuk Kabupaten Jombang.

Jajanan serupa lemper, yakni nasi yang berisikan sayuran atau sambal goreng dibungkus dengan daun pisang. Dan populer sebagai jajanan pengganti sarapan. Biasanya arem-arem ini berukuran lebih besar daripada lemper.

Baca Juga

Lain halnya dengan daerah lain, di Jombang sendiri, arem-arem diadopsi berbeda oleh salah satu warga asal Tebuireng, Diwek bernama Sigit (34) yang sudah menjajakan arem-aremnya sejak tiga bulan silam.

Sigit menamai arem-aremnya dengan sebutan ‘Arem-arem Klenger’ yang diproduksi sendiri. Sigit sengaja mengadopsi berbeda dengan mengandalkan rasa pedas dan gurih. Sebab, untuk di daerah Jawa Tengah sendiri dominanya manis.

“Karena arem-arem ini makanan lama, dan mengingat di Jombang jarang peminatnya. Bahkan hampir tidak ada, mangkanya saya mencoba khasnya dari daerah lain untuk dicoba di Jombang. Dan kata klenger sendiri itu berasal dari rasa pedasnya arem-arem,” ujar Sigit kepada KabarJombang.com, Sabtu (3/9/2020).

Sigit mengatakan, untuk produksi jajanan setiap harinya ia menjual maksimal sekitar 200 biji per harinya dan sengaja ia batasi. Demikian ini karena masih dalam proses pengenalan ke masyarakat. Arem-arem tersebut dibawanya dengan rengkek, yang diletakkan diatas boncengan motornya dengan benner kuning bertuliskan Arem-arem Klenger.

Didalam rengkek tersebut tersusun beberapa nampan sebagai tempat untuk meletakkan arem-arem.

Tidak hanya itu, arem-arem yang dijajakan Sigit pun isinya beraneka rasa salah satunya rasa ayam + usus, daging, dan lain sebagainya. Harga yang dibandrolnya pun sangat murah Rp 2 ribu per bungkus.

Sigit berjualan mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, yang berlokasi di sekitar Jalan RE Martadinata Kepatihan, Jombang.

“Kalau ndak habis disini, ya saya sambil jalan, keliling, yang mengarah ke jalan mau pulang,”singkatnya.

Untuk omzet yang diperoleh Sigit sendiri paling minim berkisar Rp 80 ribu, maksimal berkisar Rp 350 ribu per harinya.

Dalam menjajakan arem-arem klengernya, Sigit juga tetap menerapkan dari salah satu prokes 3M yakni tetap memakai masker. Untuk mengantisipasi dan melihat situasi yang sedang tidak baik ini karena pandemi Covid-19.

“Sekarang kan situasinya seperti ini, Corona, jadi mau tidak mau untuk menjaga diri sendiri dari penyebaran virus ya harus pakai masker,” tangkasnya.

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait