Siswa MTs di Jogoroto Meninggal Mendadak di Dalam Kelas, Keluarga Tolak Autopsi

Foto: Pihak Kepolisian yang melakukan olah TKP atas kematian mendadak siswa MTs di Jogoroto, Jombang. (Istimewa/KabarJombang)
  • Whatsapp

JOGOROTO, KabarJombang.com – Seorang siswa kelas 7 asal Sekolah Madrasah Tsanawiyah yang berada di salah satu Kecamatan Jogoroto, Jombang, dengan inisial GM (12), meninggal dunia secara mendadak saat mengikuti kegiatan belajar mengajar pada Sabtu (15/11/2025) pukul 08.25 WIB. Insiden ini mengejutkan pihak sekolah dan membuat suasana pendidikan di wilayah tersebut diselimuti duka.

Peristiwa bermula ketika korban, yang duduk di bangku kelas bersama teman-temannya, tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Guru kemudian segera membawa korban ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan meminta bantuan medis dari Puskesmas Jarak Kulon.

Baca Juga

Ketika tim medis tiba, kondisi korban dalam keadaan kritis. Hasil pemeriksaan, mulut korban mengeluarkan banyak air liur, terjadi kencing tidak terkontrol, nadi tidak teraba, tekanan darah tidak muncul, dan pupil mata tidak merespons. Tim medis menyatakan korban telah meninggal dunia di lokasi.

Kapolsek Jogoroto, AKP M. Djulan, membenarkan kejadian siswa yang meninggal secara mendadak ketika melaksanakan KBM.

“Benar, ada seorang siswa yang meninggal mendadak di dalam kelas. Kami telah melakukan pemeriksaan di sekolah, puskesmas hingga rumah duka,” ujarnya.

Menurut keterangan sejumlah saksi, termasuk guru, diketahui bahwa sebelum berangkat sekolah korban sudah terlihat kurang sehat.

Korban berangkat dari rumah neneknya di Desa Selorejo pukul 06.30 WIB dan pada hari itu tidak terlihat membawa bekal seperti biasanya. Namun, pihak kepolisian belum menyimpulkan keterkaitan kondisi tersebut dengan penyebab kematian.

“Kami tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Dugaan awal, korban meninggal karena sakit,” ujarnya.

Ia menyampaikan pihak kepolisian telah menawarkan agar dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian, namun keluarga memilih menolak.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah neneknya dan dimakamkan di pemakaman umum Dusun Ngepung, Desa Selorejo, beberapa saat setelah dinyatakan meninggal.

Kepala Desa Selorejo, Janji Ainur Rofiq, turut menanggapi kabar yang menyebut kematian korban berkaitan dengan dugaan kurang makan. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga cukup baik.

“Tidak benar kalau korban meninggal karena kurang makan. Orang tuanya rutin mengirimi uang setiap bulan. Korban tinggal bersama neneknya dan kebutuhan sehari-harinya tercukupi,” terangnya.

Ia menambahkan pihak keluarga menolak autopsi karena tidak ditemukannya kejanggalan apa pun saat memandikan jenazah.

“Keluarga yakin ini murni musibah dan ketetapan dari Allah. Mereka menerima kejadian ini dengan ikhlas,” ujarnya.

Polsek Jogoroto menyatakan telah melakukan pemeriksaan awal dan memastikan tidak ada indikasi kekerasan, namun saat ini pihak kepolisian masih menelusuri riwayat kesehatan korban sebelum insiden terjadi.

Berita Terkait