Sepi Peminat, Pedagang Sekaligus Perajin Kincir Angin di Mojoagung Jombang Keluhkan Sepinya Pembeli

Foto: Slamet (68) pengerajin sekaligus pembuatan kincir angin yang menjajakan karyanya di tepian Jalan Raya Mojoagung, Jombang. (Wahyu/Kabar Jombang).
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Deretan kincir angin warna-warni, dengan bentuk yang unik berputar pelan diterpa angin sore di pinggir jalan raya Mojoagung, Jombang. Namun, tidak ada anak-anak yang mampir, tidak ada orang tua yang menawar, hanya sunyi yang menemani Slamet (68) selaku pedagang dan pengerajin kincir angin.

Padahal, Agustus biasanya jadi bulan paling ramai, saat kincir angin laris manis sebagai pelengkap kemeriahan HUT RI. Kini, sang pedagang sekaligus perajin hanya bisa memandang dagangannya berputar sia-sia, sembari berharap riuh pembeli kembali datang.

Baca Juga

Slamet menggeluti pembuatan kincir angin dan sudah menjajakan karyanya dari tahun 1982. Kali ini, ia merasakan sepinya pembeli menjadi penambah rasa sedihnya dalam menjalani hari-harinya.

Menurutnya, bulan Agustus merupakan bulan yang membawa rezeki bagi dirinya karena ramainya pembeli yang berdatangan, selama 1 Minggu Slamet mampu menjual 15 kincir angin buatannya.

“Kali ini memang benar-benar sepi dibandingkan tahun-tahun kemarin. Mungkin sekarang peminat untuk membeli kincir angin sudah berkurang. Selama satu Minggu ini hanya ada 5 pembeli saja,” terangnya.

Ditambah bahan baku pembuatan kincir angin yang mulai melonjak menjadikan beban tersendiri bagi Slamet. Semula total bahan baku pembuatan kincir angin hanya menghabiskan sekitar Rp30.000. Namun, saat ini total bahan baku hampir sama dengan harga satu kincir angin.

“Harga bahan baku juga iku melambung tinggi total bahan baku mencapai Rp50.000. Sama dengan harga kincir angin yang saya jual yakni per item kincir angin saya patok harga Rp50.000,” ucapnya dengan nada lirih.

Slamet menggunakan bahan-bahan seperti kaleng, kayu, dan triplek untuk membuat karya Kincir angin yang sudah ia tekuni bertahun-tahun.

Sementara itu, alasannya menekuni bidang tersebut karena ia suka pekerjaan yang berhubungan dengan hand craft (kerajinan tangan).

“Alasannya karena saya suka berkreasi dan menghasilkan karya-karya unik lainnya salah satunya kincir angin ini. Alhamdulillah beberapa pembeli bukan hanya orang Jombang, melainkan ada orang Malang, Mojokerto, Lumajang, dan Lamongan,” pungkasnya.

Slamet tetap gigih mempertahankan konsistensinya sekalipun pembeli di bulan Agustus mengalami penurunan. Namun, ia tetap bersabar dan percaya bahwasanya rezeki pasti datang dalam bentuk apapun.

Berita Terkait