JOMBANG, KabarJombang.com – Sudut permukiman Perum Denanyar Indah, Kecamatan Jombang, terlihat berjajar deretan bunga anggrek berwarna-warni tampak memenuhi halaman belakang sebuah rumah dua lantai. Dari kejauhan, deretan bunga itu terlihat seperti kebun mini. Namun siapa sangka, seluruhnya berawal hanya dari satu botol hadiah bunga anggrek sederhana yang diterima Diah Tri Hekmawati (48) saat ulang tahunnya sewaktu SMA. Hadiah kecil itu tak pernah ia lupakan.
“Dulu Waktu dikasih anggrek botolan, saya senang sekali. Dari situ saya mulai suka merawat anggrek,” kenangnya, Minggu (7/12/2025).
Kecintaannya kembali memuncak saat masa pandemi COVID-19. Teras rumah dipenuhi pot, kemudian ruang belakang, hingga akhirnya ia memanfaatkan area lantai dua rumah.
“Awalnya cuma iseng. Lama-lama banyak sekali. Kalau ada yang jadi, saya bagi-bagi ke teman. Eh, malah tambah banyak,” ujarnya.
Bersama sang suami, Sugeng Mardiwibowo, ia mulai menata tanaman dengan lebih serius. Perawatannya tidak main-main hampir setiap pot, media tanam, hingga pencahayaan diperhatikan. Dari sekadar hobi, aktivitas itu perlahan berubah menjadi peluang usaha.
Kini, puluhan hingga ratusan anggrek tumbuh subur di rumah mereka. Jenisnya beragam: Anggrek Bulan (Phalaenopsis), Dendrobium, Vanda, hingga Grammatophyllum speciosum atau anggrek tebu. Harganya bervariasi, mulai Rp30.000 untuk bibit hingga Rp500.000 untuk jenis yang tumbuh lebih lambat, seperti Dendrobium kriting.
“Paling diminati biasanya Dendrobium. Kalau kolektor, banyak yang cari kriting atau Grammatophyllum. Ada juga yang suka Phalaenopsis karena tampilannya elegan,” ungkapnya.
Menariknya, ia tak pernah menargetkan omzet tertentu. Ia lebih fokus merawat tanaman dan menjaga harga tetap terjangkau.
“Merawat anggrek dari kecil itu perjalanan panjang. Kalau cuaca ekstrem, saya semprot fungisida supaya tidak jamuran. Tapi kalau kena air hujan malah bagus, karena mengandung nitrogen,” tuturnya.
Dalam sebulan, Diah bisa menjual bibit, tanaman remaja, hingga anggrek yang sudah berbunga. Momen seperti hari raya dan Valentine, permintaan melonjak drastis. Pesanan datang tidak hanya dari warga sekitar, tapi juga dari pembeli daring.
Kesuksesan pasangan ini adalah bukti bahwa hobi yang ditekuni dapat berubah menjadi sumber penghasilan. Dengan ketelatenan dan semangat wirausaha, Sugeng dan Diah menyulap pekarangan rumah mereka menjadi kebun mini yang mendatangkan cuan.
Dari satu botol anggrek di masa remaja, kini mereka memiliki puluhan koleksi yang terus berkembang. Bagi Diah, setiap bunga yang mekar adalah pengingat bahwa sesuatu yang kecil bisa tumbuh menjadi besar, selama dirawat dengan cinta dan kesabaran.









