JOMBANG, KabarJombang.com – Pengungkapan kasus tragis kematian Choiriyah alias Koiriah alias Puji (47), wanita penyandang disabilitas (tunagrahita) yang diduga tewas di tangan kakak kandungnya sendiri, S (61), membuka tabir fakta yang mendalam. Di balik kerja cepat kepolisian, terdapat andil besar dari keberanian para tetangga kos korban di Dusun/Desa/Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, yang memilih untuk tidak bungkam.
Jika bukan karena keberanian warga yang berani speak up (bersuara) mendobrak alibi palsu pelaku, kematian Choiriyah mungkin akan selamanya dianggap sebagai kecelakaan biasa akibat terpeleset di kamar mandi.
Berawal dari Kegelisahan dan Isyarat Mistis
Ayu Sarifah Wulandari, salah seorang tetangga kos korban, membeberkan cerita di balik keputusannya untuk membongkar kejanggalan ini. Ayu mengaku awalnya dirundung rasa takut dan bimbang untuk bersuara karena pihak keluarga korban sejak awal bersikeras menolak adanya evakuasi medis ke Puskesmas maupun rumah sakit.
Namun, keteguhan Ayu runtuh setelah ia mengalami sebuah kejadian yang mengusik batinnya.
”Awalnya saya enggak berani mengungkapkan, soalnya kan dari keluarga sudah bilang kalau enggak boleh dievakuasi ke Puskesmas atau ke IGD. Tapi besoknya, saya itu sudah enggak enak gitu loh, tidak tau kenapa tiba-tiba saya ‘diperlihatkan’ (didatangi/wujud isyarat mistis) gitu loh siangnya itu,” ungkap Ayu saat diwawancarai di lokasi pada, Rabu (17/6/2026).
Didorong oleh rasa tidak tenang dan bersalah, Ayu akhirnya menceritakan kegelisahannya kepada sang suami.
Pada Sabtu (13/6/2026) sore, begitu suaminya pulang, mereka langsung bergerak menuju Dusun Pajaran, Desa Peterongan tempat jenazah korban disemayamkan dan dimakamkan. Di sana, mereka melapor ke ketua RT dan kepala dusun setempat.
Dari laporan itulah, warga yang memandikan jenazah korban akhirnya berani blak-blakan mengungkap bahwa sekujur tubuh Choiriyah dipenuhi luka lebam tak wajar dan seperti bekas cakaran.
Prihatin Atas Penganiayaan Terhadap Anak Istimewa
Rasa duka dan penyesalan juga mendalam di hati Anisa, tetangga kos lainnya. Ia mengaku sangat terpukul atas nasib malang yang menimpa Choiriyah. Di matanya, Choiriyah adalah sosok yang baik dan membutuhkan perlindungan, bukan kekerasan.
”Kasihan, wong anak seperti itu kok dianiaya gitu loh. Kita sebagai tetangga juga prihatin. Kok ada ya saudara seperti itu,” kata Anisa dengan nada bergetar.
Anisa menuturkan, selama dua minggu tinggal di kos tersebut, Choiriyah sering bermain dan bersosialisasi di depan rumahnya hampir setiap hari. Sebaliknya, sang kakak (S) yang bekerja sebagai buruh masak dikenal sering terlibat cekcok dengan korban, terutama saat pulang malam, dipicu masalah kebersihan kamar mandi atau cara makan korban yang berantakan.
Meskipun Choiriyah bukan warga asli desa setempat, para tetangga merasa memiliki beban moral jika harus menutup mata atas ketidakadilan ini.
”Masa orang seperti itu (mengalami kekerasan) kita lepas tangan, kan enggak mungkin. Beban juga buat kita,” tegas Anisa.
Respons Cepat Polisi dan Solidaritas Warga
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aparat kepolisian setempat awalnya tidak menerima laporan resmi terkait adanya kejanggalan kematian korban dari pihak keluarga. Namun, setelah jurnalis melakukan penelusuran di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian, aparat langsung bergerak cepat melakukan olah TKP.
Penyelidikan tersebut berlanjut pada proses ekshumasi (pembongkaran makam) pada Minggu (14/6/2026), dua hari setelah korban dimakamkan. Hasil autopsi tim forensik RS Bhayangkara Kediri pun meruntuhkan semua alibi pelaku dengan ditemukannya resapan darah di kepala serta patah tulang akibat hantaman benda tumpul. Kini, S telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Sementara itu, suasana haru menyelimuti area rumah kos yang kini masih melingkar garis polisi. Pada Rabu (17/6/2026) sore, lantunan doa tahlil terdengar menggema.
Para tetangga, khususnya ibu-ibu setempat, secara sukarela menggelar doa bersama untuk almarhumah Choiriyah. Meski hanya mengenal korban selama dua minggu, warga sepakat mengadakan tahlilan selama 7 hari berturut-turut bahkan menyediakan berkat untuk jamaah sebagai bentuk penghormatan terakhir agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.








