PERAK, KabarJombang.com – Permintaan pasar terhadap komoditas ikan lele di Kabupaten Jombang melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sayangnya, berkah peningkatan pasar ini harus dibarengi dengan ujian berat bagi para pembudidaya, yakni meroketnya harga pakan pabrikan dan membengkaknya biaya distribusi akibat ketidakstabilan pasokan BBM subsidi.
Lonjakan permintaan ini salah satunya dipicu oleh bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal tahun. Kondisi tersebut memaksa para pembudidaya yang tergabung dalam komunitas Petani Ikan Air Tawar Nusantara (Pekantara) di Kabupaten Jombang untuk memutar otak demi menambah kapasitas produksi di tengah kepungan biaya operasional yang mencekik.
”Permintaan sejak Januari meningkat cukup signifikan karena adanya MBG. Bahkan saat ini kebutuhan pasar masih kurang sekitar 20 sampai 30 persen,” ungkap Heri Purnomo, penggerak Pekantara asal Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Jombang, Kamis (21/5/2026).
Heri menceritakan, komunitas yang awalnya dibentuk dari keresahan para petani ikan lokal dengan 20 anggota ini, kini telah menggurita menjadi sekitar 300 anggota aktif.
”Total ada sekitar 1.000 kolam yang dikelola anggota, ukuran rata-rata 3×6 meter sampai 3×7 meter,” ujarnya.
Dari ribuan kolam tersebut, Pekantara sebenarnya mampu menggelontorkan produksi lele sekitar 3 hingga 4 ton per hari untuk memasok kebutuhan pasar di berbagai daerah di Jawa Timur. Namun, potensi cuan melimpah dari tingginya permintaan ini terganjal oleh efek domino konflik geopolitik global di Timur Tengah yang mengerek harga pakan.
”Beberapa bulan terakhir harga pakan naik sekitar Rp250 per kilogram. Belum sampai rugi, tapi margin keuntungan mulai menipis,” ucap Heri.
Tak hanya dihantam urusan pakan, para petani lele juga harus menelan pil pahit di jalur distribusi. Tersendatnya pasokan BBM subsidi di lapangan memaksa armada pengirim beralih ke bahan bakar nonsubsidi yang jauh lebih mahal.
”Kalau biosolar ada ya pakai itu. Tapi kalau kosong, terpaksa harus beli BBM non-subsidi, otomatis ongkos distribusi ikut naik,” keluh Heri.
Di sisi lain, Heri menganalisis bahwa dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejauh ini memang belum terasa secara langsung. Kendati demikian, ia memproyeksikan tekanan ekonomi global masih berpotensi memberi hantaman susulan pada sektor budidaya ikan dalam beberapa bulan ke depan.
Menyikapi situasi pelik ini, anggota Pekantara tidak tinggal diam. Sebagai strategi penyelamatan, mereka kini mulai mengembangkan pakan alternatif secara mandiri agar tidak terus-menerus didikte oleh harga pakan pabrikan yang kian melambung.
.
Meski dikepung tantangan kenaikan harga pakan dan BBM di tengah puncak permintaan pasar, Heri optimis sektor budidaya ikan air tawar di Jombang tidak akan gulung tikar. Efisiensi biaya produksi dan penguatan jaringan antarpembudidaya menjadi kunci utama bertahan.
”Selama air masih ada dan pembudidaya tetap beraktivitas, usaha ini akan terus jalan. Kuncinya efisiensi dan kolaborasi,” pungkasnya.









