PETERONGAN, KabarJombang.com – Dari sebuah rumah di Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, lahir karya-karya kreatif yang telah dinikmati penikmat musik genre metal atau underground di mancanegara. Sosok di baliknya adalah Hudan Aminullah (27), seorang guru yang menjalani kehidupan ganda, pendidik di ruang kelas dan editor video lirik musik di rumahnya.
Sehari-hari, Hudan mengajar para siswa. Namun selepas aktivitas mengajar usai, ia bertransformasi menjadi kreator motion graphics yang menggarap video lirik untuk band-band luar negeri. Karyanya kini tak hanya beredar di dalam negeri, tetapi juga menjangkau pasar internasional, khususnya komunitas musik underground.
Ketertarikannya pada dunia desain grafis sebenarnya telah tumbuh sejak remaja. Sayangnya, keterbatasan perangkat kala itu membuatnya belum bisa mendalami minat tersebut. Setelah lulus dari madrasah aliyah berbasis agama, Hudan melanjutkan studi di Jurusan Teknologi Informatika Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang.
Ia berharap bisa memperdalam ilmu desain dan editing selama kuliah. Namun realitasnya, materi desain yang didapatkan hanya bersifat dasar.
“Saya masuk jurusan itu dengan harapan bisa belajar desain lebih dalam, tapi ternyata tidak terlalu banyak dibahas,” ujarnya Rabu (4/3/2026).
Titik balik justru datang dari kecintaannya pada musik metal. Sejak duduk di bangku sekolah, Hudan aktif bermain band dan mengikuti perkembangan musik metal melalui media sosial.
Dari sana, ia menemukan tren video lirik milik band-band luar negeri yang saat itu masih tampil sederhana, berupa teks bergerak mengikuti irama lagu.
Rasa penasaran mendorongnya untuk mencoba membuat karya serupa. Berbekal tutorial di internet dan eksplorasi mandiri, ia mulai mempelajari motion graphics secara otodidak. Perlahan, kemampuannya berkembang.
Pada tahap awal, Hudan menawarkan jasanya secara cuma-cuma kepada band-band komunitas demi membangun portofolio. Baginya, pengalaman dan hasil karya lebih penting daripada bayaran.
Selain video lirik, ia juga menerima desain layout kaset dan CD album band lokal yang dipasarkan melalui media sosial.
“Proyek-proyek awal banyak datang dari jejaring komunitas musik dengan honor yang tidak besar. Meski demikian, penghasilan tersebut cukup membantu kebutuhan pribadi saya saat masih berstatus mahasiswa,” terangnya.
Menjelang kelulusan pada 2020, Hudan mulai mencoba peruntungan di pasar global lewat platform freelance Fiverr. Kendala bahasa Inggris tidak menyurutkan langkahnya. Ia memanfaatkan Google Translate untuk berkomunikasi dengan klien.
Perjalanan itu tidak langsung mulus. Setelah melalui proses yang tidak singkat, ia akhirnya mendapatkan klien pertama dari Finlandia. Saat itu, ia memasang tarif sekitar 20 dolar AS jauh di bawah harga pasar demi mendapatkan kepercayaan awal. Proyek tersebut menjadi pintu pembuka karier internasionalnya.
Seiring bertambahnya pengalaman dan portofolio, kualitas karyanya semakin matang. Kini, Hudan mematok tarif sekitar 60 dolar AS per proyek dengan waktu pengerjaan rata-rata satu pekan.
Dalam sebulan, saya menangani kurang dari sepuluh proyek agar tetap seimbang dengan tanggung jawab sebagai seorang guru,” ungkapnya.
Hingga saat ini, ia memperkirakan telah mengerjakan 30 hingga 45 proyek video lirik dari berbagai negara, sementara klien dalam negeri masih belasan.
Bagi Hudan, perjalanan tersebut bukan semata tentang penghasilan, tetapi tentang proses belajar dan konsistensi. Ia menyadari bahwa strategi yang berhasil bagi orang lain belum tentu memberi hasil serupa bagi dirinya.
“Pekerjaan bisa kita tiru, tapi rezeki setiap orang berbeda,” tuturnya.
Di tengah kesibukannya, Hudan berharap ke depan muncul komunitas kreatif di Jombang sebagai wadah berbagi dan berkembang bersama. Selama ini, ia lebih sering berdiskusi dengan kreator dari luar daerah secara daring.
Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak menunggu fasilitas sempurna untuk mulai berkarya. Menurutnya, internet telah menyediakan ruang belajar yang luas, termasuk untuk mempelajari motion graphics dan Adobe After Effects melalui berbagai platform seperti YouTube.
“Asal ada kemauan dan konsisten belajar, itu sudah cukup untuk memulai,” pungkasnya.









