JOMBANG, KabarJombang.com – Suasana penuh tawa dan celoteh khas Jombangan terdengar riuh di Gedung Kesenian Jombang, Rabu (5/11/2025). Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 Kelompok Faktual Media (KFM), digelar acara bertajuk ‘Sambat dan Maido Bareng Yuk Nah’ yang menghadirkan dua ikon lokal, Yuk Nah dan Cak Besut.
Kegiatan ini diikuti oleh para tamu undangan serta 50 peserta terpilih yang sebelumnya dikenal lewat komentar ‘terpedas’ mereka di salah satu unggahan akun KabarJombang.com, yang merupakan bagian dari Kelompok Faktual Media bersama FaktualNews.co. Dari ratusan komentar yang masuk, 50 akun dipilih dan diundang langsung untuk hadir dan berinteraksi dalam acara tersebut.
Dalam acara itu, Yuk Nah tidak tampil sendirian. Ia berduet dengan Cak Besut, karakter ikonik Kabupaten Jombang yang dikenal kocak dan kritis. Keduanya saling berbalas celetukan khas Jombangan, serta seputar informasi terpanas sekaligus membuka ruang dialog bagi peserta yang hadir untuk menyampaikan sambatan, paido, dan unek-unek mereka terkait berbagai persoalan di Kabupaten Jombang.
“Acara ini bukan untuk marah-marah, tapi jadi wadah bareng-bareng menyuarakan keresahan warga Jombang dengan cara yang santai dan lucu. Harapannya, sambat bareng ini bisa jadi semangat membangun Jombang yang lebih baik,” ujar Muhfid Ketua Panitia.
Dalam kesempatan itu, Adi Susanto, pendiri Kelompok Faktual Media, turut menceritakan asal-usul munculnya sosok Yuk Nah, yang kini memiliki banyak penggemar dan pengikut di media sosial. Menurutnya, karakter Yuk Nah terbentuk secara tidak sengaja.
“Namanya itu dari kebiasaannya sendiri. ‘Yuk’ diambil dari nama panggilannya, sementara ‘Nah’ dari kata yang sering dia ucapkan saat live, ‘nah… nah… nah…’. Dari situ akhirnya muncul nama Yuk Nah,” ungkap Adi.
Adi juga mengungkap bahwa awalnya Ayuk (nama asli Yuk Nah) melamar kerja sebagai admin kantor, bukan sebagai host atau pengisi konten. Namun, karena melihat potensinya, Adi meminta Ayuk untuk melakukan live reportase di Alun-Alun Jombang. “Ternyata dia punya ciri khas sendiri, gaya penyampaiannya seperti emak-emak muda Jombang, ngomelnya khas tapi menghibur,” tambahnya.
Tak bisa dipungkiri, konten Yuk Nah sering kali menuai komentar pedas hingga bullyan dari warganet karena gaya bicaranya yang dianggap ‘nyeleneh’ atau ‘nylekit’. Namun, bagi Adi, hal itu justru menjadi ukuran keberhasilan konten.
“Kalau tidak ada yang komentar atau paido, berarti kontennya tidak berhasil. Justru kalau banyak yang menanggapi, berarti pesannya sampai. Saya selalu bilang ke Yuk Nah, jadikan paidoan itu semangat untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi orang banyak,” tutur Adi.
Gagasan acara “Sambat dan Maido Bareng Yuk Nah” ini sendiri lahir dari ramainya komentar netizen di media sosial. Ia melihat fenomena itu sebagai potensi positif untuk mempererat interaksi antara media, konten kreator, dan masyarakat.
“Daripada sambat dan maido hanya di medsos, lebih baik kita wadahi di dunia nyata, biar bisa saling sapa, saling ngerti, dan bareng-bareng cari solusi,” kata Adi Susanto.
Melalui kegiatan ini, ia berharap semangat kritik, saran, dan sambatan masyarakat bisa menjadi bahan refleksi dan motivasi bagi semua pihak untuk bersama-sama membangun Jombang yang lebih baik ke depan.









