Hangat di Antara Arus dan Senja: Sensasi Berbuka Puasa di Tepi Sungai Brantas Megaluh

Foto: Fauziyah Az-Zahra saat menikmati menu buka puasa iwak kali di tepi Sungai Brantas, Megaluh, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

MEGALUH, KabarJombang.com – Langit di atas tepian Sungai Brantas, Sabtu (28/2/2026) sore, perlahan berubah warna. Semburat jingga memantul di permukaan air, menyatu dengan riak kecil dari perahu getek yang hilir mudik menyeberangkan penumpang. Angin berembus pelan, menghadirkan kesejukan yang jarang ditemui di tengah padatnya aktivitas harian.

Di tanggul Desa Megaluh, waktu seakan berjalan lebih lambat. Warga dan pengunjung duduk berjejer; ada yang bercengkerama, menikmati senja, hingga asyik dengan gawainya. Mereka datang bukan sekadar menunggu azan Magrib, tetapi mencari pengalaman berbuka puasa yang menyatu dengan alam.

Baca Juga

Bagi Fauziyah Az-Zahra (19), warga Sumobito, suasana tersebut memiliki makna tersendiri.

“Saya tadi ngabuburit di tepi Sungai Brantas ini. Tempatnya enak sekali. Cocok buat yang ingin ngabuburit sekaligus berbuka. Ada rasa tenang yang jarang saya rasakan kalau buka di tempat ramai,” ujarnya.

Zahra mengaku awalnya penasaran setelah melihat kawasan ini ramai di media sosial. Video senja berlatar perahu getek yang melintas membuatnya ingin datang langsung. Namun, menurutnya, pengalaman di lokasi jauh lebih hangat dibandingkan yang terlihat di layar ponsel.

“Waktu sampai sini, rasanya beda. Anginnya sejuk, pemandangannya nyaman. Kita bisa lihat perahu getek menyeberang, orang-orang duduk santai. Saya sempat naik perahu juga. Sederhana, tapi justru itu yang bikin berkesan,” tuturnya.

Di atas perahu kayu, ia merasakan sensasi yang tak biasa. Perahu bergerak perlahan membelah arus, sementara cahaya matahari yang hampir tenggelam menyinari wajah para penumpang. Tanpa musik keras dan tanpa klakson kendaraan, hanya suara air serta percakapan ringan yang terdengar.

Menjelang azan, aroma masakan mulai tercium dari warung-warung di sekitar tambangan. Zahra memilih memesan hidangan khas iwak kali, asam-asam mujair.

“Karena dekat sungai, saya penasaran dengan ikan khasnya. Saya pesan asam-asam mujair. Rasanya enak sekali, ada asam segarnya dan gurih khas ikan kali. Ringan, tapi tetap terasa setelah seharian puasa,” katanya.

Ia mengaku sudah beberapa kali datang ke lokasi ini, namun baru pertama kali mencoba menu tersebut sebagai hidangan berbuka. Menurutnya, menikmati ikan sungai di tepi sungai menghadirkan sensasi tersendiri.

“Seperti ada koneksinya. Kita makan ikan kali sambil melihat sungainya langsung. Apalagi saat azan Magrib terdengar, rasanya syahdu sekali,” ucapnya.

Di sekelilingnya, sejumlah keluarga membuka bekal, sementara lainnya menyantap hidangan dari warung setempat. Anak-anak berlarian kecil di atas tanggul, para orang tua duduk menghadap senja. Saat azan Magrib berkumandang, percakapan terhenti sejenak, digantikan doa yang lirih.

Bagi Zahra, berbuka puasa di tepian Sungai Brantas bukan sekadar soal tempat yang tengah viral. Ia menemukan ketenteraman yang sulit dijelaskan.

“Di tengah hiruk-pikuk sehari-hari, di sini rasanya adem. Hangatnya bukan cuma dari makanannya, tapi dari suasananya—angin sore, cahaya senja, dan perahu-perahu kecil yang terus berjalan. Sederhana, tapi bikin hati tenang,” tuturnya.

Ramadan di tepian Sungai Brantas, Megaluh, seolah mengajarkan bahwa kebahagiaan berbuka tak selalu hadir dari kemewahan. Kadang, ia datang dari sepiring asam-asam mujair, semilir angin sungai, dan cahaya senja yang perlahan tenggelam bersama rasa syukur.

Berita Terkait