PLANDAAN, KabarJombang.com – Libur sekolah tak selalu harus dihabiskan di pusat perbelanjaan atau tempat wisata modern. Di Dusun Sembung, Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, ratusan anak justru menikmati pengalaman berbeda, bermain sambil belajar di peternakan kambing etawa.
Di Mapan Farm, anak-anak diajak mengenal lebih dekat kehidupan peternakan melalui program wisata edukasi susu kambing. Mereka tidak hanya melihat kambing dari kejauhan, tetapi juga berinteraksi langsung, memberi pakan, hingga mencoba memerah susu.
Suasana ceria tampak saat puluhan siswa mengikuti kegiatan outing class. Tawa dan rasa penasaran mewarnai setiap sudut kandang ketika mereka mendekati kambing-kambing etawa yang menjadi penghuni utama peternakan tersebut.
Pemilik Mapan Farm, Munir Alfanani, mengatakan wisata edukasi ini memang dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak, terutama saat musim liburan sekolah.
“Anak-anak banyak yang ingin mengenal lebih dekat tentang kambing. Bagaimana cara beternaknya, apa makanannya, sampai bagaimana menghasilkan susu yang berkualitas baik. Karena itu kami membuat wisata edukasi ini,” ujarnya saat diwawancarai di kandang miliknya Selasa (16/6/2026).
Menurut Munir, konsep wisata edukasi tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi anak-anak, tetapi juga menjadi cara mengenalkan susu kambing etawa kepada masyarakat yang selama ini belum terlalu akrab dengan produk tersebut.
Peserta diajak memahami seluruh proses peternakan secara sederhana. Mulai dari pengenalan jenis kambing, pakan yang diberikan setiap hari, hingga proses pemerahan susu yang higienis.
Tak hanya diminati sekolah-sekolah di Kecamatan Plandaan, program edukasi ini juga mulai menarik perhatian lembaga pendidikan dari daerah lain. Sejumlah sekolah dasar dan madrasah di kawasan Utara Brantas tercatat telah mengunjungi Mapan Farm untuk kegiatan pembelajaran luar kelas.
Menariknya, wisata edukasi di Mapan Farm tidak memungut biaya masuk. Pengunjung cukup membeli produk susu kambing yang tersedia di lokasi sebagai bentuk dukungan terhadap peternakan lokal.
“Kami tidak menarik biaya edukasi. Masuk gratis. Yang penting pulang beli susu,” ujar Munir sambil tersenyum.
Untuk kunjungan rombongan, pihak peternakan menetapkan minimal 50 peserta dengan kapasitas mencapai 100 hingga 200 anak dalam satu kegiatan. Pada musim liburan sekolah, kunjungan dapat dilakukan setiap hari, sementara pada hari biasa layanan edukasi dibuka pada akhir pekan.
Keberadaan wisata edukasi seperti ini menurutnya juga menjadi alternatif rekreasi yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang sulit didapatkan di dalam ruang kelas. Di tengah derasnya arus teknologi dan gawai, anak-anak diajak kembali dekat dengan alam, mengenal dunia peternakan, serta memahami proses produksi pangan dari sumbernya.
“Libur sekolah pun menjadi lebih bermakna. Bukan sekadar bermain, tetapi juga belajar langsung dari kehidupan nyata di kandang kambing etawa,” pungkasnya.
Risma Ramadani, salah seorang peserta outing class, mengaku senang bisa belajar langsung di peternakan.
“Ke sini belajar memerah susu kambing sama kasih makan kambing. Senang, karena ini pengalaman baru,” katanya dengan wajah antusias.









