JOMBANG, KabarJombang.com- Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadziq atau Gus Fahmi, mengingatkan umat Islam agar menjaga hati dan lisan selama menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Menurutnya, puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga ucapan dan kebersihan hati agar pahala puasa tidak sia-sia.
Pesan tersebut disampaikan Gus Fahmi dalam tausiah Ramadan di Jombang. Ia menegaskan hati dan lisan menjadi dua hal penting yang menentukan kualitas ibadah seseorang selama menjalankan puasa.
“Di bulan Ramadan ini, hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin menjaga hati dan lidah kita. Jangan sampai hati dan lidah justru membatalkan pahala puasa,” ujar Gus Fahmi, Minggu (8/3/2026).
Dalam tausiahnya, Gus Fahmi mengangkat kisah Lukman Al Hakim sebagai pelajaran tentang pentingnya menjaga hati dan lisan. Ia menceritakan kisah ketika Lukman yang saat itu menjadi seorang budak diperintahkan majikannya untuk memotong kambing dan mengambil bagian tubuh yang paling baik. Lukman kemudian menyerahkan hati dan lidah kambing kepada majikannya.
Keesokan harinya, majikan tersebut kembali memerintahkan Lukman memotong kambing, namun kali ini diminta mengambil bagian tubuh yang paling buruk. Lukman kembali membawa hati dan lidah.
Ketika majikannya heran dan menanyakan alasan tersebut, Lukman menjelaskan bahwa tidak ada bagian tubuh yang lebih baik dibandingkan hati dan lidah apabila keduanya dalam keadaan baik. Sebaliknya, tidak ada bagian tubuh yang lebih buruk jika keduanya dalam keadaan rusak.
Menurut Gus Fahmi, kisah tersebut menjadi pengingat kualitas seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hatinya serta bagaimana ia menjaga lisannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika bagian tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging tersebut adalah hati. (HR Bukhari dan Muslim).
Selain itu, ia mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW bahwa seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam. (HR Bukhari dan Muslim).
Gus Fahmi menjelaskan perbedaan antara hal yang membatalkan puasa dengan hal yang dapat menghilangkan pahala puasa. Menurutnya, hal yang membatalkan puasa berkaitan dengan sesuatu yang masuk ke dalam mulut, seperti makan dan minum. Sementara itu, pahala puasa dapat berkurang bahkan hilang akibat ucapan yang keluar dari mulut, seperti kata-kata buruk, hinaan, maupun ghibah.
Ia kembali mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa pun dari puasanya selain lapar dan dahaga. (HR Ibnu Majah).
“Ketika lisan ini sudah mengeluarkan kata-kata kotor, kata-kata buruk, apalagi menyinggung perasaan orang lain, itu ibarat anak panah yang telah lepas dari busurnya dan sangat sulit untuk ditarik kembali,” jelasnya.
Menurutnya, hal itu menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya fokus menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga perilaku dan ucapan selama menjalankan ibadah puasa.
“Puasa bukan sekadar hanya menahan apa yang masuk ke mulut, tetapi juga menjaga apa yang keluar dari mulut,” pungkas Gus Fahmi.









