Wujud Toleransi, Perhimpunan Tionghoa Jatim Bagikan Ribuan Takjil di Jombang

Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur saat membagikan 1.000 paket takjil di Pos Kota, Alun-alun, Jombang. (Kevin Nizar) 
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan sekitar 1.000 paket takjil dan buka puasa kepada masyarakat di kawasan Pos Kota Alun-alun Kabupaten Jombang, Sabtu (7/3/2026).

Aksi berbagi tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda kebangsaan yang diselenggarakan INTI selama bulan Ramadan.

Baca Juga

Ratusan warga tampak antusias menerima paket makanan untuk berbuka puasa yang dibagikan para pengurus dan anggota INTI. Paket tersebut berisi nasi, ayam, tahu, tempe sambal, lalapan, kerupuk, serta minuman teh botol dan es degan.

Ketua panitia kegiatan, Phoa Anditya, mengatakan kegiatan berbagi takjil ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat hubungan antarumat beragama.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang beragam.

“Melalui kegiatan ini kami ingin berbagi kebahagiaan dengan masyarakat sekaligus memperkuat tali persaudaraan. Ini juga bagian dari komitmen kami untuk terus menjaga kerukunan,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.

Pria yang akrab disapa Andi itu mengaku terkejut dengan tingginya antusiasme masyarakat Jombang. Menurutnya, paket takjil yang disiapkan habis dibagikan hanya dalam waktu singkat.

“Hanya butuh waktu sekitat setengah jam, 1000 paket sudah habis. Ini menunjukkan semangat kebersamaan masyarakat Jombang sangat baik,” katanya.

Selain kegiatan berbagi takjil, INTI Jawa Timur juga menggelar agenda lain dalam rangkaian kunjungan kebangsaan di Jombang. Salah satunya adalah ziarah ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek.

Phoa menilai sosok Gus Dur memiliki peran penting dalam memperjuangkan nilai toleransi serta kebebasan berbudaya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Karena itu, rangkaian kegiatan yang dilakukan juga menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan tokoh tersebut.

Ia menambahkan, sejak berdiri INTI membawa semangat kebersamaan lintas suku, agama, dan budaya. Berbagai kegiatan sosial yang dilakukan organisasi ini menjadi wujud nyata dari komitmen tersebut.

“Kerukunan tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata,” tuturnya.

Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy, menambahkan kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi kebangsaan sekaligus mengenang jasa Gus Dur bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Ia menjelaskan, kegiatan diikuti sekitar 45 peserta dari Surabaya, 20 peserta dari Jombang, serta enam peserta dari Malang.

Rangkaian agenda yang digelar antara lain ziarah ke makam Gus Dur, kunjungan ke pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, wisata budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Gudo, serta workshop di Museum Wayang Potehi.

Menurut Stefanus, Gus Dur merupakan tokoh yang berperan besar dalam membuka ruang kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan identitas dan budaya mereka di Indonesia.

“Bagi kami, Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan dan pluralisme. Beliau membuka ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan budaya secara terbuka, termasuk perayaan Imlek,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai utama yang diwariskan Gus Dur adalah pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama tanpa memandang perbedaan latar belakang.

INTI Jawa Timur berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada momen Ramadan, tetapi juga dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Berita Terkait