Kue, Ibu, dan Kenangan: Cerita di Balik Lukisan 3D Karya Siswi Jombang di Pameran Hari Ibu

Foto: Anggelina Adelia, perupa muda asal Jombang, bersama karya lukis 3D yang menarik perhatian pengunjung dalam pameran Hari Ibu. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Di antara lebih dari seratus karya yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Beautiful, satu karya bertekstur tebal menyerupai kue sungguhan sontak menarik perhatian pengunjung. Lukisan tiga dimensi berjudul Sundays Cake: The Glaze Monolog itu bukan sekadar memanjakan mata, tetapi menyimpan kisah personal tentang ibu, rumah, dan kenangan masa kecil yang hangat.

Karya berukuran 70 x 90 sentimeter dengan teknik mix media on canvas tersebut merupakan hasil goresan tangan Anggelina Adelia (17), siswi kelas XI SMA PGRI 2 Jombang. Melalui visual kue yang tampak nyata, Anggelina menghadirkan simbol kasih ibu yang sederhana, namun membekas kuat dalam ingatan.

Baca Juga

“Karya ini terinspirasi dari kue buatan ibu. Ibu saya suka baking, jadi kalau ada waktu luang sering membuat kue di rumah. Aromanya itu selalu bikin ingat rumah,” tutur Anggelina saat ditemui di lokasi pameran, Jumat (19/12/2025).

Baginya, kue hari Minggu bukan sekadar makanan. Ia adalah penanda waktu kebersamaan saat rumah terasa lebih tenang, keluarga berkumpul, dan kasih ibu hadir melalui hal-hal kecil yang kerap luput disadari.

Berbeda dari lukisan dua dimensi pada umumnya, Anggelina memilih pendekatan tiga dimensi untuk menyampaikan pesannya. Tekstur krim yang menonjol, lapisan spons, hingga hiasan bunga palsu ditempel langsung pada kanvas, menciptakan ilusi visual yang nyaris menyerupai kue asli.

“Kalau hanya 2D sudah biasa. Saya ingin karya ini beda dan bisa langsung menarik perhatian orang,” jelasnya.

Untuk mewujudkan efek tersebut, ia memanfaatkan berbagai bahan tak lazim. Selain cat akrilik, Anggelina menggunakan spons, bunga palsu, serta campuran bedak bayi dan cat tembok untuk menciptakan tekstur krim kue yang lembut namun padat.

Proses pengerjaan lukisan ini memakan waktu sekitar empat hari. Menariknya, karya tersebut dikerjakan di sela-sela kesibukannya menghadapi ujian sekolah.

“Pulang ujian langsung ngerjain lukisan. Capek, tapi karena ini tentang ibu, jadi tetap semangat,” ujarnya sambil tersenyum.

Kesulitan terbesar justru muncul di tahap awal, saat mencari konsep yang tepat. Namun setelah ide tentang kue dan ibu menguat, proses kreatifnya mengalir lebih lancar.

Anggelina mengaku mulai menyukai dunia seni lukis sejak kelas VII SMP pada 2021. Namun, ia baru benar-benar mengembangkan bakatnya secara serius ketika duduk di kelas X SMA. Kini, ia aktif mengikuti ekstrakurikuler lukis di sekolah, dan Pameran Lukisan Beautiful menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan awalnya sebagai perupa muda.

Melalui Sundays Cake: The Glaze Monolog, Anggelina ingin menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: tentang pulang ke rumah dengan kenangan hangat, serta tentang mencintai dan menghargai ibu melalui hal-hal kecil yang sering dianggap biasa.

“Pesannya, kita bisa pulang ke rumah dengan kenangan yang hangat. Apalagi ini momen Hari Ibu, jadi tentang mencintai ibu, menghargai masakan ibu, karena dari situ juga ada rasa cinta,” pungkasnya.

Karya Anggelina menjadi bukti bahwa Pameran Lukisan Beautiful bukan sekadar ruang pamer visual, melainkan juga wadah cerita, emosi, dan pengalaman perempuan lintas generasi dari ibu, tentang ibu, dan untuk ibu.

Berita Terkait