Tradisi Suro di Gunung Pucangan Ngusikan Jombang, Ribuan Peziarah di Petilasan Dewi Kili suci

Makam yang diyakini sebagai petilasan Dewi Kilisuci di puncak Gunung Pucangan, Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. (Istimewa).
  • Whatsapp

NGUSIKAN,KabarJombang.com- Ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati Petilasan Dewi Kilisuci di puncak Gunung Pucangan, Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, selama Bulan Suro.

Selain menjadi momentum untuk berdoa dan mencari keberkahan, kedatangan para peziarah menjadi wujud pelestarian tradisi. Sekaligus penghormatan terhadap jejak sejarah Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga yang memilih meninggalkan kehidupan istana demi menjalani pertapaan.

Baca Juga

Juru pelihara situs, Agus Syahid, mengatakan kunjungan peziarah mengalami peningkatan signifikan selama Bulan Suro. Mereka datang tidak hanya dari Jombang, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar Pulau Jawa.

“Untuk peziarah datang dari Jombang dan luar Jombang seperti Demak, Kediri, Nganjuk, Lamongan, Gresik bahkan dari luar pulau yakni dari Kalimantan. Rata-rata mereka berziarah dan ritual di Bulan Suro ini,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, aktivitas ziarah berlangsung hampir setiap malam. Puncak kunjungan biasanya terjadi pada malam 1 Suro, malam 15 Suro, serta malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi.

Situs tersebut dibuka selama 24 jam sehingga peziarah dapat datang kapan saja untuk berdoa maupun menjalankan ritual spiritual.

Mayoritas peziarah datang dengan berbagai tujuan, mulai dari memanjatkan doa, mencari ketenangan batin, hingga memohon kelancaran rezeki, kesehatan, jodoh, maupun kesuksesan dalam pekerjaan.

“Banyak yang datang untuk berdoa dan berharap mendapatkan keberkahan. Ada yang memohon kesehatan, kelancaran usaha, sampai kenaikan jabatan,” ujar Agus.

Sebelum mencapai makam utama di puncak Gunung Pucangan, para peziarah biasanya singgah terlebih dahulu di Sendang Dermo atau Sendang Drajad yang berada di kaki gunung.

Di lokasi tersebut mereka melakukan mandi suci atau mengambil air yang diyakini memiliki nilai spiritual sebelum melanjutkan perjalanan menuju petilasan.

Setibanya di area makam, peziarah menjalankan sejumlah rangkaian ritual, seperti meminta izin kepada juru kunci, menaburkan bunga, membakar dupa atau kemenyan, membaca tahlil dan Yasin, serta memanjatkan doa sesuai hajat masing-masing.

Di balik ramainya aktivitas ziarah, Petilasan Dewi Kilisuci menyimpan nilai sejarah yang kuat. Dewi Kilisuci memiliki nama asli Sanggramawijaya Dharmaprasada Tunggadewi dikenal sebagai putri Raja Airlangga sekaligus pewaris tahta Kerajaan Kahuripan.

Namun, ia memilih meninggalkan kehidupan istana dan menempuh jalan pertapaan karena enggan menerima tahta sebelum rakyatnya hidup sejahtera.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Dewi Kilisuci kemudian bertemu dengan Kakek Dermo, tokoh yang dipercaya sebagai pembabat Alas Pucangan. Pertemuan tersebut membawanya menetap di kawasan Gunung Pucangan hingga akhir hayatnya.

Kawasan petilasan terdapat 13 makam yang diyakini sebagai makam Dewi Kilisuci beserta para dayang dan pengikut setianya.

Keberadaan situs tersebut menjadikannya salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang terus menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Selain dikenal sebagai situs bersejarah, kawasan Gunung Pucangan lekat dengan berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Nuansa spiritual yang kuat menjadi salah satu alasan tempat ini tetap ramai dikunjungi, terutama saat Bulan Suro yang oleh masyarakat Jawa diyakini sebagai bulan yang sarat makna dan nilai sakral.

Hingga kini, tradisi ziarah di Petilasan Dewi Kilisuci terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Tidak hanya menjadi ruang spiritual bagi para peziarah, situs tersebut menjadi pengingat akan warisan sejarah dan budaya yang masih hidup serta dijaga oleh masyarakat setempat secara turun-temurun.

 

 

Berita Terkait