JOMBANG, KabarJombang.com – Tradisi Wiwit Kopi kembali digelar masyarakat Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, pada 8–9 Agustus 2026. Kegiatan tahunan tersebut menjadi penanda dimulainya masa panen kopi sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan.
Wiwit Kopi merupakan bagian dari rangkaian Adat Bumi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Segunung. Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian, tetapi juga mengandung nilai syukur, kebersamaan, serta penghormatan masyarakat terhadap alam yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ketua Kampung Adat Segunung, Supi’i, menjelaskan bahwa istilah wiwit dalam bahasa Jawa memiliki arti memulai. Karena itu, Wiwit Kopi dimaknai sebagai prosesi untuk mengawali panen kopi yang dilakukan masyarakat setempat.
“Wiwit Kopi merupakan tradisi masyarakat Segunung sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh. Dalam bahasa Jawa, wiwit berarti memulai, sehingga Wiwit Kopi dimaknai sebagai awal dimulainya panen kopi oleh masyarakat setempat,” ujar Supi’i Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu identitas Kampung Adat Segunung. Kehidupan warga yang banyak bergantung pada perkebunan membuat keberadaan tradisi ini memiliki keterkaitan erat dengan keseharian masyarakat.
Prosesi Wiwit Kopi dimulai dengan doa bersama di kawasan perkebunan kopi milik warga. Doa tersebut dipimpin oleh pemangku adat sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan agar musim panen berjalan dengan baik.
Usai doa, warga kemudian melakukan pemetikan buah kopi yang telah matang dan ditandai dengan warna merah. Pemetikan pertama tersebut menjadi simbol dimulainya musim panen kopi di kawasan Segunung.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan membawa hasil panen dan berbagai hasil bumi warga dalam sebuah arak-arakan menuju Balai Ageng Giri Kedaton. Dalam rombongan tersebut terdapat gunungan yang berisi hasil pertanian, jajanan pasar, serta has lainnya.
Supi’i mengatakan, arak-arakan menjadi salah satu bagian kekompakan masyarakat dalam menjalankan tradisi yang diwariskan leluhur.
“Arak-arakan diikuti oleh masyarakat dan menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kekompakan warga Kampung Adat Segunung dalam menjaga tradisi,” katanya.
Setibanya di Balai Ageng Giri Kedaton, warga mengikuti doa dan selamatan bersama. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Adat Bumi karena masyarakat kembali memanjatkan rasa syukur atas hasil pertanian dan perkebunan sekaligus memohon keberkahan untuk musim panen yang dijalani.
Tahun ini, pelaksanaan Wiwit Kopi juga melibatkan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN Veteran Jawa Timur. Keterlibatan mahasiswa menambah warna dalam rangkaian kegiatan sekaligus membuka ruang interaksi antara generasi muda dengan masyarakat adat.
Sejumlah kegiatan turut digelar untuk memeriahkan acara, di antaranya tumpengan dan lomba goreng kopi. Kedua kegiatan tersebut menjadi sarana hiburan sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKN dan warga Kampung Adat Segunung.
“Tumpengan menjadi salah satu kegiatan kebersamaan antara warga dan mahasiswa KKN. Tumpeng dinikmati bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat hubungan antara masyarakat Segunung dengan mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Carangwulung,” terang Supi’i.
Sementara itu, lomba goreng kopi menjadi kegiatan yang tidak hanya menghadirkan suasana meriah, tetapi juga memperkenalkan kopi lokal Segunung kepada masyarakat yang hadir.
“Lomba goreng kopi turut memeriahkan pelaksanaan Wiwit Kopi. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kopi lokal Segunung sekaligus menciptakan suasana kebersamaan dan hiburan bagi masyarakat,” jelasnya.
Rangkaian tradisi juga diisi dengan pembagian atau perebutan hasil bumi yang sebelumnya telah disiapkan. Warga memaknai kegiatan tersebut sebagai simbol berbagi rezeki. Kebersamaan yang tercipta dalam prosesi itu menjadi bagian dari nilai sosial yang terus dipertahankan masyarakat Segunung.
Bagi mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN Veteran Jawa Timur, keterlibatan dalam Wiwit Kopi menjadi kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Carangwulung.
Supi’i menilai interaksi tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami berbagai nilai yang terkandung dalam tradisi masyarakat Segunung, mulai dari rasa syukur, gotong royong, hingga hubungan manusia dengan lingkungan.
“Melalui keterlibatan secara langsung, mahasiswa dapat memahami nilai kebersamaan, rasa syukur, serta hubungan masyarakat dengan alam yang terkandung dalam tradisi Wiwit Kopi,” ujarnya.









