JOMBANG, KabarJombang.com – Di antara ratusan karya yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Beautiful, satu karya berhenti lebih lama di hadapan pengunjung. Bukan karena warnanya paling cerah, melainkan karena kesunyian yang ditawarkannya terasa menyesakkan.
Sebuah lukisan berjudul “Kekal di Ingatan, Peluk di Kenangan” karya Mitha Hara Maulidya (16), siswi kelas XI SMA PGRI 2 Jombang, menjadi pengingat bahwa Hari Ibu tak selalu tentang bahagia.
Lukisan berukuran 70 x 90 sentimeter dengan teknik mix media on canvas itu dipajang berdampingan dengan sebuah batu nisan buatan. Di atasnya tertulis nama dan taburan bunga. Elemen ini sengaja dihadirkan bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai perpanjangan emosi dari cerita yang diangkat.
“Biar pengunjung bisa ngerasain sedihnya,” ujar Mitha lirih.
Berbeda dengan karya lain yang merayakan kehangatan ibu dan anak, Mitha justru memilih mengangkat kisah tragis seorang ibu hamil di Papua yang meninggal dunia setelah ditolak beberapa rumah sakit saat hendak melahirkan. Kasus nyata yang terjadi beberapa waktu lalu itu membekas kuat di benaknya.
“Awalnya saya bingung cari referensi. Tema Hari Ibu itu biasanya bahagia. Tapi kok rasanya nggak kena di hati,” tuturnya.
Hingga akhirnya ia menemukan kembali berita tentang ibu hamil yang wafat bersama bayinya karena tak mendapat penanganan medis.
“Padahal titik bahagia seorang ibu itu kan waktu melahirkan. Tapi kebahagiaan itu direnggut karena hal yang nggak bisa dijelaskan, karena nggak ada dokter,” lanjutnya.
Lewat karya ini, Mitha tak sekadar bercerita, tetapi juga menyampaikan kritik dan protes. Protes terhadap sistem yang abai, terhadap pintu-pintu rumah sakit yang tertutup, dan terhadap nyawa perempuan yang dianggap “terlalu jauh” untuk diselamatkan. “Iya, ini bentuk kritik juga,” katanya tegas.
Dalam narasi yang menyertai karya, Mitha menuliskan bagaimana waktu menjadi “pisau” yang perlahan menghabisi harapan sang ibu, serta bagaimana penolakan demi penolakan berubah menjadi kematian yang seharusnya bisa dicegah.
Lukisan ini menempatkan tubuh perempuan bukan sekadar objek, tetapi ruang kemanusiaan yang seharusnya dilindungi.
Yang membuat karya ini semakin mengesankan, proses pembuatannya dilakukan dalam waktu singkat. Hanya sekitar tiga hari, itu pun bersamaan dengan ujian sekolah.
“Iya, sambil ujian, sambil ngebut lukis,” katanya sambil tersenyum kecil.
Ini adalah karya pertama Mitha yang dipamerkan ke publik. Minatnya pada seni lukis baru tumbuh sejak SMP kelas IX, terinspirasi dari teman yang pandai menggambar. Ketika masuk SMA dan mengikuti ekstrakurikuler lukis, ia menemukan ruang yang mendukung kebebasan berekspresi.
“Gurunya dukung banget apa yang mau dikaryakan siswanya,” ujarnya.
Batu nisan yang menyertai lukisan menjadi simbol kehilangan ganda ibu dan anak serta cara Mitha mengajak pengunjung merasakan duka yang sama.
“Ini kan keluarganya ditinggal ibu sama anaknya. Sedihnya itu biar semua orang ngerasain juga,” katanya.
Karya ini ditawarkan dengan harga sekitar Rp4 juta, sudah termasuk instalasi batu nisan.
Melalui Kekal di Ingatan, Peluk di Kenangan, Mitha menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam, bahwa setiap ibu yang melahirkan berhak atas perawatan yang layak, dan setiap nyawa pantas diselamatkan.
“Terima kasih untuk semua ibu dan calon ibu,” tutupnya.
Sebuah ucapan yang lahir dari empati, sekaligus perlawanan sunyi dari seorang perempuan muda lewat kanvas dan keberanian.









