Pupuk Organik Cair Disperta Jombang, Dinilai Tak Efektif Menjawab Kebutuhan Petani

Hariadi saat ditemui di area persawahan miliknya (Foto: DianaKN)
  • Whatsapp

TEMBELANG, KabarJombang.com – Pengadaan pupuk organik cair di Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang senilai Rp 4,6 Miliar yang direalisasikan pada November dan Desember 2020, dinilai sejumlah petani di Jombang tidak efektif karena dianggap tidak menjadi solusi kebutuhan petani.

Hariadi (39) seorang petani di wilayah Kecamatan Tembelang mengatakan, semua program pemerintah itu sebenarnya bertujuan baik. Namun, ia mempertanyakan apakah proses sampai ke petani itu sudah benar atau tidak. Dan apakah program tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.

Baca Juga

“Kalau pupuk organic cair, menurut saya tidak efektif. Karena saat ini, yang petani butuhkan adalah mudah mendapat pupuk subisidi, seperti Urea, ZA,” tutur petani yang mengaku terjun ke sawah sejak kecil ini pada KabarJombang.com, Senin (9/11/2020).

Terkait pupuk organik cair tersebut diorientasi untuk kesuburan tanah, menurut Hariadi, keberhasilan petani tidak hanya dari tingkat kesuburan tanah karena adanya pupuk cair. Lebih dari itu, petani bisa dikatakan berhasil ketika proses tanam sampai panen tidak terkendala apa-apa.

“Untuk saat ini apakah kesuburan tanah yang jadi masalah kita? Sekarang begini, kalau membuat rumah lantainya baik-baik saja, nggak mungkin kita hanya butuh lantai, tapi juga butuh dinding dan gentengnya. Nah, saat ini yang dibutuhkam petani itu tahapan setelah lantai itu. Petani sampai ampun-ampun mencari pupuk subsidi,” jelasnya.

Hariadi bahkan mengatakan, petani bisa membuat sendiri pupuk organik cair, ketika orientasinya kesuburan tanah. Menurutnya, paling peting adalah melihat terlebih dulu kandungan pupuknya seperti apa. Apakah kandungan pupuk organic cair yang super atau bagaimana.

“Jangan-jangan sama aja dengan yang kita pakai selama ini yang EM4, ya kita sudah bisa membuat sendiri, itu satu botolnya harga Rp 20 ribu,” tandasnya.

Ia menilai, lebih baik memperbaiki persoalan pupuk subsidi yang dihadapi petani. “Makanya tenaga PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) juga harusnya tahu sebenarnya kebutuhan petani itu apa. Lha sampai sekarang, saya jadi petani nggak pernah diajak diskusi langsung di sawah, keluhannya apa, apa yang jadi kendala,” terangnya.

Hariadi menyarankan, agar program mengenai pertanian benar-benar murni untuk kebaikan petani. Menurutnya, harapan petani cukup sederhana, bibit dan pupuk tidak langka, dan hasil panen juga harganya bagus.

“Saya percaya program pemerintah itu bagus. Tapi, dalam perjalanannya harus benar-benar dilihat, program ini itu beneran atau nggak. Pernah ada dulu bantuan bibit jagung, saya kira bagus, eh malah hasilnya jelek, puret-puret (tidak bisa tinggi) tanamannya,” tutupnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait