Ketua PCNU Jombang Minta Gus Kikin Rangkul Kompetitor: Bukan Lawan, tapi Kawan

Ketua PCNU Kabupaten Jombang KH Fahmi Amrullah Hadzik. (Istimewa).
  • Whatsapp

JOMBANG,KabarJombang.com- Ketua PCNU Kabupaten Jombang KH Fahmi Amrullah Hadzik mendorong kepemimpinan baru PBNU segera mengakhiri sekat akibat kontestasi Muktamar NU ke-35. Ia meminta KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar merangkul seluruh kompetitor dan menyatukan kembali warga Nahdliyin untuk fokus menjalankan program organisasi.

Fahmi menilai perbedaan pilihan selama Muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi. Setelah keputusan Muktamar ditetapkan, seluruh warga NU harus kembali bersatu.

Baca Juga

“Pertama, agar semua pihak bisa menerima karena ini adalah keputusan Muktamar, forum tertinggi permusyawaratan di Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ucap Gus Fahmi, Selasa (1/9/2026).

Ia berharap Gus Kikin dan KH Miftachul Akhyar membuka ruang bagi tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi kompetitor, di antaranya KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.

“Di luar Muktamar kita semua adalah saudara Nahdliyyin. Kami berharap Gus Kikin dan Kiai Miftah bisa merangkul mereka yang kemarin berkompetisi dan mengakomodir dalam kepengurusan yang akan datang,” tuturnya.

Menurut Fahmi, akomodasi tidak harus selalu berupa jabatan. Hal terpenting adalah menunjukkan bahwa kontestasi Muktamar bukan pertentangan antarsesama warga NU.

“Yang penting kita tunjukkan bahwa bukan lawan, tapi kawan, saudara, bersama-sama untuk membangun dan menjalankan program-program NU,” ujarnya.

Ia mendorong PCNU dan PWNU seIndonesia berjalan seirama dengan PBNU agar lebih fokus menjalankan program yang berdampak langsung kepada masyarakat, terutama di bidang pmendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“PCNU, PWNU se-Indonesia bersama PBNU supaya satu komando dalam menjalankan program. Sehingga Jam’iyah NU ini bisa fokus ke program yang jelas, misalnya pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” katanya.

Gus Fahmi mengusulkan pendirian lembaga pendidikan unggulan dengan karakter khas NU untuk bidang pendidikan. Ia juga mendorong penguatan layanan kesehatan serta kemandirian ekonomi Jam’iyah.

“Sudah waktunya NU mandiri secara ekonomi. Tidak mengapa mengelola tambang, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan Jam’iyah,” tegasnya.

Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.

Keduanya ditetapkan melalui mekanisme musyawarah Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh dukungan tertinggi, yakni 472 dari 551 suara, sebelum akhirnya dipilih secara mufakat oleh AHWA.

Berita Terkait