JOMBANG, KabarJombang.com – Kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 diharapkan mampu mendorong rumah sakit NU dan Muslimat NU naik kelas, baik dari sisi layanan, tata kelola maupun kemandirian ekonomi.
Harapan itu disampaikan Koordinator Bidang Kesehatan Panitia Muktamar ke-35 NU, dr. H. M. Zulfikar As’ad, MMR atau Gus Ufik. Ia berharap sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas khidmah PBNU di bawah kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
Menurut Gus Ufik, kesehatan merupakan bentuk khidmah yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, jaringan rumah sakit NU dan Muslimat melalui Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) perlu diperkuat melalui tata kelola profesional, kolaborasi antarlembaga, dan dukungan dunia usaha.
“Sebagai praktisi kesehatan, kami betul-betul berharap dengan nakhoda Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Kikin, NU ke depan menjadikan khidmah kesehatan yang sejatinya sangat dibutuhkan umat dan masyarakat sebagai salah satu concern utama,” ujar Gus Ufik, Selasa (1/9/2026).
Ia menilai pengalaman Gus Kikin memimpin PWNU Jawa Timur dapat menjadi modal untuk memperluas ekosistem kesehatan NU secara nasional. Salah satu model yang dinilai bisa dikembangkan adalah PT Bulan Cahaya Lillah (BCL), yang mendukung kebutuhan rumah sakit ARSINU Jawa Timur, mulai obat, reagen, bahan medis habis pakai, alat kesehatan hingga manajemen.
“Alhamdulillah sudah berjalan dua tahun dan hasilnya sudah dapat dirasakan oleh seluruh rumah sakit ARSINU Jawa Timur serta PWNU Jawa Timur sebagai pemegang sahamnya,” ucap Gus Ufik.
Ia berharap pola tersebut tidak berhenti di Jawa Timur. Sinergi antara jam’iyah NU, organisasi profesi seperti Dokter NU dan Perawat NU, jaringan rumah sakit NU dan Muslimat, dunia usaha, serta kalangan profesional dinilai dapat membangun ekosistem kesehatan yang lebih mandiri.
Harapan tersebut disampaikan setelah Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam masa khidmat 2026-2031 melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).
Usai terpilih, Gus Kikin juga menyinggung pentingnya penguatan pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sosial. Ia menegaskan NU harus dikelola secara inklusif dengan melibatkan seluruh elemen organisasi.
Dengan kepemimpinan baru tersebut, Gus Ufik berharap layanan kesehatan NU dapat berkembang lebih profesional, modern, berkelanjutan, sekaligus tetap berorientasi pada pengabdian kepada umat dan bangsa.









