Sentilan Alissa Wahid untuk Santri yang Malas Kembali ke Pesantren Usai Libur Panjang

Ning Alissa Wahid, Inayah Wulandari, bersama PPPA dengan ditemani Dzhurriyah berziarah di makam Masyaikh Tebuireng. (Istimewa/KabarJombang).
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Fenomena santri yang enggan kembali ke pondok pesantren usai liburan panjang menjadi perhatian serius Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid.

Dalam kunjungannya ke Pesantren Tebuireng, Jumat (3/4/2026), putri sulung Gus Dur ini memberikan pesan menukik bagi para santri yang masih bimbang untuk pulang ke asrama.

Baca Juga

​Ning Alissa menegaskan bahwa rasa malas untuk kembali ke pondok seharusnya dilawan dengan kesadaran akan besarnya peluang masa depan yang ada di pesantren.

​”Jangan malas kembali ke pondok. Di pesantren, kita tetap bisa bersenang-senang sambil mengasah diri. Rasa nyaman dan bahagia itu tergantung bagaimana kita memaknai proses belajar,” tegasnya di hadapan para santri.

​Meski mengakui bahwa liburan bersama keluarga memang menyenangkan, Ning Alissa mengingatkan bahwa pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama. Menanggapi banyaknya santri yang belum kembali ke pondok, ia menekankan beberapa hal.

Pertama, peluang kepemimpinan. Menjadi santri di Tebuireng adalah tiket untuk belajar menjadi pemimpin masa depan Indonesia, meniru jejak para alumni yang telah berkiprah di kancah nasional.

​Selain itu, kata dia, pesantren bukan sekadar tempat menghafal teks agama, melainkan ruang untuk meneladani perilaku Kiai dan Nyai.

“Menjadi santri di Tebuireng adalah kesempatan belajar menjadi pemimpin, bahkan pemimpin Indonesia. Jangan hanya menghafal, tetapi harus mengambil inspirasi,” imbuhnya.

Allisa bilang, santri harus memegang prinsip khoirunnas anfauhum linnas, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, yang hanya bisa diasah melalui kehidupan komunal di pondok.

​Dalam kunjungan bersama rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut, Alissa juga menukil pesan mendalam dari sang ayah, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tentang korelasi antara perilaku dan hasil pendidikan.

​”Sekolahnya baik tapi kelakuannya buruk, hasilnya juga buruk. Sebaliknya, kalau kelakuannya baik, hasilnya akan baik. Di Tebuireng kita sudah mendapatkan lingkungan yang baik, tinggal bagaimana kita menjalaninya,” tuturnya.

​Menurutnya, menjadi bagian dari Tebuireng adalah sebuah keistimewaan sejarah. Ia berharap para santri segera mengakhiri masa liburnya dan kembali fokus menempa diri.

​”Menjadi santri Tebuireng itu keistimewaan. Bukan hanya mencari ilmu agama, tetapi juga belajar semua dimensi, termasuk keteladanan para kiai, sejarah, dan proses kehidupan bersama,” pungkas Ning Alissa.

Berita Terkait