Suarakan Krisis Iklim, Lintas Komunitas Gelar Aksi Solidaritas Seni di Taman Kebonrojo Jombang

Aksi solidaritas lintas komunitas di Taman Kebon Rojo, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Sejumlah pegiat seni, lingkungan, literasi, dan budaya yang tergabung dalam gerakan lintas komunitas menggelar kegiatan bertajuk Solidaritas Seni untuk Iklim di Taman Kebonrojo, Kabupaten Jombang, Minggu (1/11/2026) pagi.

Digelar bertepatan dengan kegiatan Car Free Day (CFD), acara ini menjadi ruang ekspresi sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap krisis iklim dan persoalan ekologis yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga

Koordinator acara, Rico Aswandi, yang mewakili Literasi Jalanan Jombang, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pegiat lingkungan, literasi, dan budaya, baik dari Kabupaten Jombang maupun sejumlah daerah di Jawa Timur.

Menurutnya, kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai komunitas dan organisasi, di antaranya Gusdurian, Bait Kata Library, WALHI Jawa Timur, Rumah Merdeka, Pantomim Nusantara, serta sejumlah komunitas independen lainnya.

“Solidaritas Seni untuk Iklim ini digagas sebagai kerja bersama lintas komunitas. Kami ingin mengajak publik untuk lebih peduli terhadap krisis iklim atau krisis ekologis yang saat ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Rico di sela-sela acara.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan lingkungan yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Melalui pendekatan seni dan budaya, para penggerak berharap masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kepedulian, aspirasi, kritik, maupun harapan terhadap kondisi lingkungan dan masa depan Indonesia.

Rico menegaskan, suara masyarakat dari akar rumput atau grassroots seharusnya dipandang sebagai bagian dari hak warga negara untuk berpendapat dan berekspresi, bukan justru dianggap sebagai bentuk kebencian.

“Harapannya, suara dari grassroots, baik berupa aspirasi, kritik, maupun saran, tidak lagi dianggap sebagai bentuk kebencian. Itu merupakan hak masyarakat untuk berpendapat, berekspresi, serta mendapatkan pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi yang terjamin sebagaimana telah diatur dalam undang-undang,” jelasnya.

Ia juga berharap gerakan semacam ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Sebaliknya, ruang-ruang ekspresi dan penyampaian aspirasi masyarakat dapat terus tumbuh melalui kolaborasi lintas komunitas dan profesi.

Dalam pelaksanaannya, Solidaritas Seni untuk Iklim menghadirkan berbagai kegiatan yang memadukan seni, literasi, musik, dan ruang diskusi. Sejumlah rangkaian acara yang disuguhkan di antaranya pembacaan puisi, lapak baca, pertunjukan live band, pantomim, CKG, serta diskusi bersama.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi medium bagi para peserta dan pengunjung CFD untuk terlibat dalam menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan melalui pendekatan yang kreatif dan terbuka.

Menariknya, kegiatan ini diselenggarakan secara swadaya oleh komunitas-komunitas yang terlibat. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk solidaritas antarkelompok masyarakat dalam membangun gerakan kepedulian terhadap lingkungan.

Selain menghadirkan ruang ekspresi seni, penyelenggara juga membuka penggalangan donasi sebagai bentuk solidaritas kepada komunitas kebudayaan dan pegiat lingkungan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Rico menyampaikan, donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada organisasi kebudayaan dan komunitas pegiat lingkungan di wilayah tersebut.

Penggalangan donasi direncanakan berlangsung hingga satu hari setelah kegiatan atau H+1. Karena itu, jumlah donasi yang terkumpul belum dapat dipastikan saat acara berlangsung. Selain donasi langsung, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah aktivitas pendukung, seperti cukur rambut gratis dan sablon cukil.

“Solidaritas Seni untuk Iklim menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan www tanggung jawab bersama. Dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat, suara dan gerakan kolektif diharapkan terus tumbuh untuk mendorong masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Berita Terkait