Bertahan Demi Halal, Realitas Keras Penjaga Angkringan Jombang di Balik Sorotan Publik

Suasana angkringan yang ada di kawasan Jl. KH. Hasyim Asy'ari, Dusun Parimono, Desa Plandi, Kec/Kabupaten Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Setiap sore, sekitar pukul enam, Puja Nova Nurmaulidya mulai mendorong gerobak angkringan sejauh sekitar 20 hingga 25 meter menuju lokasi berjualan di kawasan, taman Jl. KH. Hasyim Asy’ari, Dusun Parimono, Desa Plandi, Kec/Kabupaten Jombang.

Setelah gerobak tiba, perempuan 21 tahun itu menata gelas, menyiapkan dagangan, melayani pembeli, mencuci peralatan, hingga membereskan semuanya kembali sampai dini hari.

Baca Juga

Rutinitas itu ia jalani hampir setiap hari selama satu tahun terakhir. Upah yang diterimanya? Hanya Rp35 ribu untuk satu malam kerja.

Nominal itu sudah mencakup seluruh pekerjaannya meliputi mendorong gerobak, menata lapak, melayani pelanggan, mencuci gelas, hingga membereskan angkringan saat tutup.

“Mulai kerja sekitar jam enam petang, selesai sekitar jam satu malam. Jam satu itu pun masih beres-beres buat tutup,” ujar Puja, saat diwawancarai pada Jumat (24/7/2026).

Dalam seminggu, jika tidak libur, ia memperoleh sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Jika dihitung selama sebulan, penghasilannya bahkan tidak sampai Rp1 juta. Namun bagi Puja, pekerjaan itu tetap ia syukuri.

“Kalau dibilang cukup ya enggak. Tapi gimana, cari kerja juga susah. Yang penting halal,” katanya.

Puja berasal dari Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, yang jaraknya sekitar 10 kilometer sama tempat jualanya. Karena pekerjaannya selesai larut malam, ia memilih tinggal di kos di Kecamatan Diwek dengan jarak yang lebih pendek sekitar 3 kilometer, dengan harga Rp450 ribu per bulan.

Penghasilannya yang minim membuatnya harus sangat berhitung. Ia mengurangi jatah makan, menekan pengeluaran seminimal mungkin, bahkan tetap berusaha menyisihkan uang untuk ibunya yang bekerja sebagai buruh tani.

“Yang penting bisa hidup. Kadang sehari makan satu kali. Kalau masih lapar ya beli mi. Yang penting sehari perut terisi sama nasi,” tuturnya.

Ayah Puja telah meninggal dunia. Sejak saat itu ia bertekad tidak ingin menjadi beban bagi ibunya.

“Aku enggak mau membebani orang tua. Masa harus minta terus? Yang penting bisa hidup sendiri daripada minta terus,” ungkapnya.

Setiap dua pekan sekali ia pulang menemui sang ibu. Namun, ibunya tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana berat pekerjaan yang dijalaninya.

“Ibu tahunya aku kerja. Enggak tahu kerja kayak gimana. Yang penting beliau tahunya aku sehat dan enggak pernah minta uang,” katanya.

Belakangan, angkringan di kawasan Parimono menjadi sorotan publik dan media sosial. Tidak sedikit komentar negatif yang diarahkan kepada para pekerjanya.

Padahal, menurut Puja, sebagian besar dari mereka hanyalah orang-orang yang sedang berusaha bertahan hidup.

Ia mengaku sempat diminta pulang oleh kakaknya setelah melihat berbagai postingan dan komentar di media sosial.

“Katanya, ‘Ya sudah pulang saja, aku bisa ngidupin kamu.’ Tapi sampai kapan aku harus bergantung sama saudara?, tanyanya”

Puja menjelaskan kepada keluarganya bahwa realitas di lapangan jauh berbeda dengan anggapan orang.

“Banyak yang keluarganya enggak harmonis, banyak juga yang ijazahnya cuma SMP, bahkan SD. Mau cari kerja di mana? Orang cuma lihat jeleknya saja,” keluhannya.

Karena itu, ia berharap masyarakat tidak terburu-buru menghakimi para pekerja angkringan.

“Kalau enggak tahu apa yang kita rasakan, jangan menghujat. Di sini orang cuma cari nafkah, tandasnya”

Pekerjaan itu juga tak selalu berjalan mulus. Saat musim hujan, pembeli bisa turun drastis. Puja pernah mengalami malam ketika hanya terjual 12 gelas minuman dengan omzet sekitar Rp80 ribuan. Meski demikian, ia tetap datang bekerja.

“Pernah berangkat kena hujan, baju basah sampai kering sendiri di badan, bahkan pulang masih basa,” sambatnya.

Beruntung, gaji hariannya tetap dibayarkan meski omzet turun. Menurutnya, omzet angkringan tempat ia bekerja saat ini rata-rata sekitar Rp150 ribu per malam pada hari biasa dan belum termasuk biaya operasional seperti listrik maupun kebersihan.

Jika sedang ramai, bisa sampai sekitar 50 orang. Sebelum bekerja di angkringan, Puja pernah menjaga stan minuman dengan gaji sekitar Rp750 ribu per bulan.

Ia mengaku sudah berkali-kali melamar ke berbagai pabrik di Jombang. Namun hingga kini belum pernah mendapat panggilan.

“Kalau ada kerja yang lebih baik ya mau. Tapi sudah ngelamar ke pabrik-pabrik, belum pernah dipanggil,” benernya.

Sambil menunggu kesempatan itu datang, Puja memilih tetap bekerja. “Ya jalanin saja dulu yang ada, yang penting saya bisa kerja, “tuturnya.

Cerita serupa datang dari Anggun Gisella Gitafreya atau yang akrab disapa Gita, penjaga angkringan lainnya yang telah bekerja hampir satu tahun.

Perempuan 20 tahun asal Kecamatan Gudo itu mulai bekerja pukul tujuh malam hingga sekitar pukul satu dini hari.

Tugasnya lebih sederhana. Menyiapkan lapak, jualan, habis itu beres-beres.

Berbeda dengan Puja, Gita tidak ikut mendorong gerobak. Sistem upahnya juga berbeda.

Ia menerima bayaran antara Rp45 ribu hingga Rp60 ribu per malam, bergantung pada target omzet.

Jika penjualan mencapai Rp350 ribu hingga Rp400 ribu dalam semalam, ia memperoleh bayaran sesuai target yang ditentukan.

Dalam sebulan, penghasilannya bisa mencapai lebih dari Rp2 juta. Meski begitu, perjalanan hidup Gita juga tidak mudah.

Ia hanya memiliki ijazah SD setelah putus sekolah saat duduk di bangku MTs akibat persoalan keluarga.

Kini ia tinggal bersama neneknya karena telah berpisah dengan orang tuanya sejak sekitar dua tahun lalu. “Sekarang tinggal sama nenek,” ucap Gita.

Sebelum bekerja di Jombang, Gita sempat menjadi penjaga warung kopi di Surabaya selama dua tahun.

Sebelum akhirnya ia mendapat tawaran dari temanya untuk kerja menjaga angkringan di daerah Parimono. Menurutnya, lingkungan kerja di Jombang terasa lebih nyaman dan aman.

“Kalau di Surabaya pergaulannya terlalu bebas. Di sini masih tau aturan,” katanya.

Ia mengaku yang awalnya hanya coba-coba namun hingga saat ini, dirinya merasa masih betah kerja sebagai penjaga angkringan. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada kesempatan kerja di tempat yang lebih baik, akan ia ambil.

Sama seperti Puja, Gita mengaku sedih dengan stigma yang dilekatkan kepada pekerja angkringan.

Ia merasa masyarakat sering kali menilai tanpa mengetahui kenyataan yang mereka hadapi.

“Kadang agak terganggu. Aku di sini kan cuma kerja, kok jadi omongan orang di luar sana,” terangnya.

Menurut Gita, para pelanggan yang datang sebagian besar hanya menikmati kopi, berbincang, lalu pulang.

“Untungnya di sini enggak pernah ada yang senonoh. Orang datang ya ngopi, bayar, terus pulang,” ceritanya.

Dukungan justru datang dari sang nenek.
‘Yang penting halal. Enggak nyuri.’ Kalimat sederhana itu menjadi pegangan dan penyemangat Gita untuk tetap bertahan.

Sebab di balik secangkir kopi yang tersaji setiap malam, ada anak-anak muda yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, membantu keluarga, dan mempertahankan harapan akan pekerjaan yang lebih baik suatu hari nanti.

Berita Terkait