Kisah Gemoy, Penjaga Angkringan Jombang yang Ikut Berhijab demi Hormati Muktamar NU

Salah satu penjual angkringan di Parimono, Jombang yang tampil beda saat event Muktamar 35 NU berlangsung. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Malam-malam di sebuah angkringan di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang, tampak sedikit berbeda selama pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Para perempuan yang biasa melayani pembeli di angkringan kini tampil mengenakan hijab dan pakaian yang lebih tertutup. Bagi sebagian pedagang, perubahan penampilan itu menjadi bagian dari cara mereka menghormati gelaran besar NU yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Baca Juga

Salah satunya Astrid (33), yang akrab disapa Gemoy. Perempuan asal Kecamatan Ngoro itu setiap hari pulang-pergi dari Ngoro ke tempatnya berjualan di Jombang.

Sudah sekitar tiga tahun Gemoy menjalankan usaha angkringannya sendiri. Di tengah kesibukan melayani pembeli, ia mengaku tidak keberatan mengikuti imbauan agar para pedagang perempuan mengenakan hijab selama Muktamar berlangsung.

“Kan ada aturannya. Kalau selama acara Muktamar harus pakai hijab ya dipatuhi saja. Menghormati acara Muktamar,” ujar Gemoy saat ditemui pada Rabu (26/8/2026) malam, sambil mengaduk kopi.

Baginya, Muktamar bukan kegiatan biasa. Gelaran lima tahunan tersebut menjadi momen langka karena tahun ini berlangsung di Jombang. “Kan lima tahun sekali dan belum tentu ada di Jombang lagi,” katanya.

Karena itu, mengenakan hijab selama beberapa hari pelaksanaan Muktamar ia anggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu dan kegiatan besar yang berlangsung di daerahnya.

Menurut pengakuannya, ia bersama para pedagang perempuan lainnya mendapat pemberitahuan agar mengenakan hijab selama Muktamar. Bahkan, ada ibu-ibu yang membagikan jilbab kepada para pedagang angkringan di wilayah tersebut.

“Iya kemarin kami dikasih jilbab. Terus dikasih tahu imbauan, mulai besok harus pakai hijab,” tuturnya.

Imbauan tersebut berlaku selama acara Muktamar selesai. Menurut Gemoy, para perempuan yang menjaga angkringan di sekitar lokasi juga mengikuti ketentuan yang sama. Namun, ada hal menarik dari pengalaman Gemoy. Setelah mengenakan hijab, ia justru merasa nyaman.

“Kalau boleh jujur, aslinya bagi saya pakai hijab seperti ini ya nyaman saja,” ucapnya.

Bahkan, ia mengaku berhijab membuat urusan penampilan sehari-hari menjadi lebih sederhana. “Kalau enggak hijab kan harus ribet catokan rambut, harus style rambut gini-gini. Kalau hijab tinggal pakai bros simple, wis,” katanya.

Bagi Gemoy, kenyamanan itu membuat hijab bukan sekadar pakaian yang dikenakan karena adanya imbauan selama Muktamar. Ia bahkan berharap keputusan berhijab, jika nantinya dilanjutkan, benar-benar datang dari kemauan pribadi.

“Kalau pakai hijab itu emang harusnya ikhlas murni. Tapi aslinya jujur ya nyaman saja pakai hijab,” ujarnya.

Di balik aktivitasnya berjualan angkringan, Gemoy memiliki kehidupan yang tidak sederhana. Ia merupakan ibu dari dua anak. Anak pertamanya duduk di kelas VIII SMP, sementara anak keduanya berada di kelas IV MI.

Kondisi tersebut tidak membuat Gemoy berhenti bekerja. Setelah sebelumnya pernah bekerja dengan orang lain, ia kemudian memberanikan diri membuka angkringan sendiri. “Namanya juga punya tanggung jawab,” katanya.

Ia sadar, pekerjaannya sebagai penjaga sekaligus pemilik angkringan bisa memunculkan beragam pandangan dari masyarakat. Terlebih, angkringan yang buka hingga malam kerap identik dengan dunia malam. Namun, Gemoy meminta masyarakat tidak menyamaratakan perempuan yang bekerja di angkringan.

“Enggak semua cewek kerja di angkringan itu enggak benar,” tegasnya.

Menurutnya, pekerjaan di angkringan adalah pilihan yang dijalaninya untuk bertahan memenuhi kebutuhan hidup. “Sebelumnya ikut orang. Terus alhamdulillah bisa buka sendiri,” ujarnya.

Ia pun tidak terlalu memedulikan penilaian orang selama dirinya mengetahui alasan mengapa ia bekerja. Seperti pedagang lainnya, pendapatan Gemoy dari angkringan tidak selalu sama setiap hari. Ada kalanya ramai, tetapi ada pula saat pembeli sepi.

Saat diwawancarai, ia menyebut kondisi perdagangan sedang tidak terlalu ramai. Pendapatan kotor per hari berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Namun, angka tersebut masih merupakan pendapatan kotor. Dari jumlah itu masih harus digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk membayar pekerja.

“Rp500, Rp500, Rp700 ribu per hari. Tapi kotor. Belum buat modal bahan dan gaji yang pekerja,” katanya.

Selama Muktamar ke-35 NU berlangsung, Gemoy merasakan adanya perubahan aktivitas pembeli. Ia menyebut suasana memang sedikit berbeda, meski belum sampai membuat angkringannya penuh seperti ketika sedang ramai pengunjung untuk sekadar nongkrong dan ngopi.

“Ya biasa saja, tapi alhamdulillah lumayan sih. Cuma memang enggak seramai kalau pas lagi rame banget banyak orang bareng-bareng ngopi,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur. Baginya, selama angkringan masih menghasilkan dan kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, itu sudah cukup. “Pokok masih dapat kok. Ya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak saya,” katanya.

Bagi Gemoy, Muktamar ke-35 NU tidak hanya menghadirkan aktivitas dan keramaian baru di sekitar tempatnya mencari nafkah. Ada pengalaman lain yang mungkin akan ia bawa pulang setelah gelaran itu berakhir. Pengalaman mengenakan hijab dan merasakan sendiri kenyamanannya.

Semula, hijab dikenakan sebagai bentuk mengikuti imbauan dan menghormati sebuah hajatan besar. Namun, dari pengalaman beberapa hari tersebut, Gemoy justru menemukan bahwa penampilan yang selama ini mungkin terasa berbeda ternyata tidak membuatnya kehilangan kenyamanan. “Jujur, asline nyaman pakai hijab,” katanya lagi.

Di tengah kesibukan melayani pembeli, menata dagangan, dan memikirkan kebutuhan keluarga, Gemoy melihat Muktamar sebagai bagian dari perjalanan hidupnya sebagai pedagang kecil di Jombang.

Berita Terkait