KUDU, KabarJombang.com – Berada di wilayah paling utara Kabupaten Jombang tidak membuat SMPN 1 Kudu tertinggal dalam prestasi. Justru sekolah yang dipimpin Kepala SMPN 1 Kudu, Srimudayani Dewi Astutik atau akrab disapa Muda, berhasil menorehkan berbagai prestasi tingkat nasional melalui pengembangan potensi lingkungan, budaya, literasi, hingga karakter siswa.
Salah satu keunikan yang menjadi ikon sekolah adalah keberadaan sekitar 100 pohon kakao yang tumbuh di hampir seluruh area sekolah. Pohon-pohon tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan lingkungan hidup bagi para siswa.
“Kami memang berada di wilayah paling pinggir utara Kabupaten Jombang. Prestasi yang kami raih dipicu oleh potensi dan keunggulan yang dimiliki sekolah,” ujar Kepala SMPN 1 Kudu, Srimudayani Dewi Astutik Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, pohon kakao dipilih karena mampu memberikan keteduhan di kawasan yang dikenal memiliki suhu cukup panas. Selain itu, buah kakao dapat dipanen sepanjang tahun dan dimanfaatkan langsung oleh para siswa.
“Anak-anak bebas memakan buah cokelat. Setelah dimakan, bijinya dimasukkan ke botol yang sudah kami sediakan. Biji-biji itu kemudian kami olah menjadi berbagai macam jenis produk, mulai dari sabun hingga makanan dan minuman. Serta ada juga yang kita semai menjadi bibit baru dan ditanam kembali. Karena itu sekarang jumlahnya sudah sekitar 100 pohon,” jelasnya.
Menurut Srimudayani, program penanaman kakao telah berjalan sekitar sepuluh tahun terakhir. Bibit yang berasal dari biji hasil konsumsi siswa terus dikembangkan sehingga menciptakan siklus penghijauan yang berkelanjutan.
Pengembangan pohon kakao tersebut juga didukung melalui kerja sama dengan perkebunan kakao di Kecamatan Wonosalam.
Selain penghijauan, SMPN 1 Kudu juga menyediakan air minum siap konsumsi yang dapat langsung diminum dari keran. Fasilitas tersebut disediakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh siswa selama berada di sekolah.
“Kami menyediakan air minum siap minum dari keran yang bisa dimanfaatkan seluruh siswa. Ini menjadi salah satu keunggulan sekolah karena anak-anak tidak perlu khawatir jika tidak membawa bekal minuman,” katanya.

Di bidang pelestarian budaya, SMPN 1 Kudu mengembangkan seni gamelan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat wilayah utara Jombang. Pembinaan tersebut membuahkan prestasi hingga mewakili Kabupaten Jombang ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Gamelan menjadi budaya yang sangat dekat dengan masyarakat di wilayah kami. Karena itu kami kembangkan dan Alhamdulillah pernah menjadi satu-satunya wakil Jombang di tingkat provinsi. Bahkan saat ada kegiatan di sekitar Jombang, grup gamelan sekolah sering diminta tampil,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam bidang literasi, sekolah berhasil meraih penghargaan perpustakaan tingkat nasional melalui pengembangan perpustakaan digital. Seluruh siswa dapat mengakses koleksi buku menggunakan telepon genggam dengan sistem barcode.
“Kami menggunakan perpustakaan digital sehingga siswa bisa membaca buku melalui HP dengan barcode. Keberhasilan ini juga didukung pustakawan kami yang memang berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan sehingga pengelolaannya lebih profesional,” tuturnya.
Tak hanya itu, SMPN 1 Kudu juga memiliki sejumlah program unggulan lain, seperti layanan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang didampingi tenaga perawat, pembinaan Paskibra dengan tujuh pleton aktif, serta program hafalan Al-Qur’an juz 30 yang diikuti puluhan siswa.
“Walaupun kami bukan sekolah berbasis agama, sekitar 50 siswa mengikuti program hafalan Al-Qur’an juz 30. Kami ingin menggali seluruh potensi yang dimiliki anak-anak, baik akademik maupun nonakademik,” ujarnya.
Di bidang lingkungan, inovasi daur ulang juga menjadi perhatian. Limbah kertas semen diolah menjadi busana tradisional yang berhasil meraih juara dalam sebuah kompetisi di Kabupaten Jombang. Karya tersebut bahkan mendapat pesanan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang untuk digunakan dalam kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup.
“Kertas bekas semen kami olah menjadi busana tradisional. Setelah meraih juara di Jombang, DLH memesan sekitar 30 baju untuk dipakai dalam kegiatan mereka. Ini menjadi salah satu ikon inovasi sekolah,” kata Muda.
Berbagai inovasi tersebut mengantarkan SMPN 1 Kudu meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional sekaligus memperoleh akreditasi perpustakaan tingkat nasional.
“Kami terus berbenah dan menggali potensi daerah maupun potensi yang dimiliki anak-anak. Dari situlah lahir berbagai prestasi yang berhasil kami raih bersama,” pungkasnya.









