Dibekali Teknik Padamkan Api hingga Evakuasi Ular

100 Relawan REDKAR Digembleng di Wonosalam Jombang

Pelatihan Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR) yang digelar di Kecamatan Wonosalam, Jombang. (Istimewa).
  • Whatsapp

WONOSALAM, KabarJombang.com-Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran terus dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Salah satunya melalui pelatihan Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR) yang diikuti sebanyak 100 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jombang pada 29–30 Juni 2026 bertempat di Kecamatan Wonosalam.

Baca Juga

Pelatihan yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan sekaligus penanganan awal ketika terjadi kebakaran sebelum petugas tiba di lokasi.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi mengenai langkah-langkah mitigasi kebakaran serta mengikuti simulasi pemadaman api menggunakan peralatan sederhana maupun metode tradisional yang dapat dimanfaatkan dalam situasi darurat.

Selain itu, para relawan juga mendapatkan pelatihan evakuasi hewan melata, khususnya ular, yang kerap ditemukan di lingkungan permukiman dan berpotensi mengancam keselamatan warga.

Sekretaris Satpol PP Provinsi Jawa Timur, Lilik Herawati, mengatakan pembentukan REDKAR menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat peran masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran, terutama menjelang puncak musim kemarau.

“Keberadaan REDKAR memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kesadaran terhadap bahaya kebakaran semakin meningkat, penanganan awal dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko kerugian akibat kebakaran dapat ditekan,” ujar Lilik.

Menurutnya, keberadaan relawan juga membantu pemerintah daerah memperluas jangkauan layanan penanggulangan kebakaran.

Selain mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), REDKAR dinilai mampu mempererat sinergi antarinstansi sekaligus meningkatkan ketangguhan daerah dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Lilik juga menjelaskan bahwa Pemprov Jawa Timur terus memperkuat sistem penanganan kebakaran melalui pemanfaatan aplikasi SIDANDIKEREN yang telah terintegrasi dengan SIJALINMAJA.

Melalui sistem tersebut, data kejadian kebakaran dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur dapat dipantau secara real time sehingga menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan serta evaluasi penanganan di lapangan.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan masyarakat menjadi semakin penting mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan potensi kebakaran, baik di kawasan permukiman maupun lahan terbuka, sehingga peran relawan di tingkat masyarakat menjadi semakin dibutuhkan.

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Sumardi, menilai penguatan kapasitas relawan harus dibarengi dengan dukungan regulasi yang jelas.

Menurutnya, hingga kini para relawan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari belum optimalnya perlindungan hukum, keterbatasan perlengkapan keselamatan, pelatihan yang belum seragam, hingga belum adanya skema pendanaan yang berkelanjutan.

“Relawan perlu memiliki legal standing yang jelas, pelatihan yang terstandarisasi, perlindungan keselamatan, hingga jaminan asuransi. Dengan dukungan tersebut, relawan dapat terintegrasi dengan Damkar dan BPBD sehingga penanganan kebakaran berbasis masyarakat semakin kuat,” kata Sumardi.

Ia menegaskan DPRD Provinsi Jawa Timur berkomitmen mendorong lahirnya kebijakan yang semakin memperkuat eksistensi relawan pemadam kebakaran.

Dukungan tersebut, lanjutnya, mencakup penyediaan anggaran untuk pengadaan peralatan pemadam berbasis komunitas, pelatihan dan sertifikasi, bantuan operasional, perlindungan keselamatan, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kebakaran.

Menurut Sumardi, sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, dan masyarakat merupakan faktor penting dalam membangun relawan pemadam kebakaran yang profesional di setiap desa dan kelurahan.

“Dengan kolaborasi tersebut, Jawa Timur diharapkan semakin siap menghadapi berbagai ancaman kebakaran dan mampu mewujudkan sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh,” pungkasnya.

 

Berita Terkait