by

USAID Prioritas Latih Guru Sekolah Mitra di Jombang

JOMBANG, (kabarjombang.com) – Sebanyak 120 guru dari sejumlah Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Kabupaten Jombang, ditambah 5 Ketua MGMP, mengikuti pelatihan di Aula SMA Negeri 3 Jombang.

Pelatihan tersebut berupa pelatihan Modul III berbasis Contekstual Teacher Learning (CTL) yang diselenggarakan USAID Prioritas bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang. Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari, Sabtu hingga Senin (27 hingga 29 Agustus 2016).

Koordinator Usaid Prioritas Kabupaten Jombang, Saifulloh mengatakan, target dari pelatihan modul III ini yakni guru membuat merancang pembelajaran dengan baik, bisa mengembangkan kemampuan informasi, dan meningkatkan kemampuan literasi siswa, yakni membaca dan menulis. “Jadi tidak hanya mengajar dan mengerjakan LKS saja. Tapi lebih pada meningkatkan literasi siswa,” ujar Saifulloh, di lokasi, Minggu (28/8/2016)

Menurut Saiful, target pelatihan modul III ini, yakni bagaimana guru SMP/MTs meningkatkan pembelajaran kontekstual yakni aktif, efektif, dan menyenangkan pada bidang studi, Matematika, IPA, IPS Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Sementara fasilitator daerah Usaid Prioritas Jawa Timur, Dwi Indah Sri Astutik menjelaskan, terdapat 3 modul yang dilatihkan Usaid Prioritas. Modul I, fokusnya perubahan mainset terhadap guru, yakni pembelajaran yang sebelumnya terpusat dari guru (teacher center) menjadi terpusat kepada siswa, melalui pembelajaran aktif, kooperatif, dimana siswa memiliki pertanggung jawaban individu.

Pelatihan metode pembelajaran bidang studi Matematika yang disesuaikan konteks kehidupan. (FOTO: RIEF)
Pelatihan metode pembelajaran bidang studi Matematika yang disesuaikan konteks kehidupan. (FOTO: RIEF)

“Pembelajaran aktif itu identik pada kerja kelompok. Namun disini, bukan semata-mata kerja kelompok saja, sebab menghasilkan sesuatu yang kelompok. Tapi belajar individu dulu, kemudian berpasangan, dan belajar pleno di kelas,” kata guru SMPN 4 Sidoarjo ini.

Untuk modul II, lanjut Indah, fokusnya pada pengembangan literasi yakni guru yang menjadi peserta pelatihan diajarkan bagaimana siswa aktif untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, kemudian mengolahnya. Bukan dari buku saja, namun dari lingkungan dan internet, narasumber, perpustakaan. Dengan kata lain, memanfaatkan sumber belajar yang ada.

“Saat pelatihan modul II, bertepatan dengan launching K-13. Sebenarnya guru yang dilatih disini, selangkah lebih dulu dari K-13. Esensi pada K-13 itu saintifik, yang langkahnya mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Itu sudah dibuat di modul I,” terang guru yang sudah 8 tahun konsen di pembelajaran ini.

Sementara modul III, jelas Indah, goalnya pada keterampilan informasi, yang menjadi pengembangan literasi. Namun, bukan hanya membaca kemudian merangkum atau menyalin saja. “Keterampilan informasi itu dititik beratkan pada pemecahan masalah. Jadi, endingnya bagaimana siswa mampu menghasilkan suatu karya yang teliti dan panjang. Artinya panjang, siswa harus bisa menguraikan,” kata Indah, begitu dia biasa disapa.

Sedangkan Arif Rahman, fasilitator daerah Usaid Prioritas Jawa Timur, ada 3 hal yang harus dilakukan oleh guru. Yakni memiliki perencanaan yang baik, melakukan pelaksanaan yang baik, dan melakukan penilaian yang baik pula. Inilah yang dilatih kepada guru oleh Usaid Prioritas. “Jadi guru harus sudah memiliki RPP yang sudah sistematis. Tidak sekedar masuk kelas, lalu masih bertanya kemarin sampai mana?. Ayo kerjakan ini dan itu,” katanya.

Dalam modul III ini yakni keterampilan informasi. Dimana guru dilatih menggerakkan siswa menghasilkan sebuah karya. “Kalau saat ini, pelatihan bidang studi matematika yang disesuaikan dengan konteks kehidupan. Matematika bukan lagi seputar angka-angka yang menjemukan. Anak didik diberi kelelusaan berkreasi. Jadi, siswa nantinya tidak disuruh mengerjakan soal-soal, tapi mereka diberi sebuah kegiatan yang membentuk kepanitian, seperti kegiatan tour, perpisahan atau kegiatan OSIS. Jadi, siswa lah yang akan menghitung anggaran kebutuhan, pengeluaran, berapa besar iurannya. Jadi, suasana belajar benar-benar hidup, dimana siswa mencari, merumuskan, dan melaporkan,” papar guru SMPN 2 Ngawi ini.

Setelah itu, guru kemudian melakukan penilaian dari karya siswa tersebut berupa pelaporan secara detil kepada setiap individu siswa. “Jadi, penilaian kepada siswa bukan lagi benar dan salah. Namun, setiap individu siswa diberi penilaian soal ketelitian menghitung, identifikasi permasalahan, kebenaran informasi yang digali, dan lainnya. Memang, tugas guru berat diawal, tapi selanjutnya sangat ringan dan nyaman,” papar Arif Rahman. (rief)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya