Kenyol dan Mantap, Klanting Jombang Tetap Eksis dan Makin Diburu

Jajanan tradisional Klanting di Jalan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jombang, Sabtu (12/9/2020). (Foto: Anggraini Dwi S)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Klanting, jajanan tradisional terbuat dari tepung jagung ini biasanya mudah dijumpai di pasar. Namun, bagaimana di kawasan Jombang Kota?. Rupanya, tidak susah juga. Klanting yang satu ini, bahkan sudah ada sejak era 90-an silam.

Lokasinya, berada di simpang empat Jalan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jombang, atau depan sebuah toko bangunan. Hanya saja, lapak penganan yang biasa disebut jajan pasar ini sudah menggunakan gerobak. Mengikuti perkembangan zaman.

Baca Juga

David (37) menyebut, berdagang klanting untuk meneruskan usaha kakek/nenek dan orang tuanya. Disamping, melestarikan jajanan tradisional di tengah gempuran jajanan modern. Lebih penting lagi, katanya, untuk mendapatkan untung dan bisa memcukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Kalau saya meneruskan jualan klanting ini sejak 2014. Meneruskan usaha yang dijalani orang tua dan kakek nenek saya. Saya sudah merupakan generasi ketiga,” ucapnya, saat ditemui di sela-sela berjualan, Sabtu (12/9/2020).

David juga mengatakan, tetap memilih tempat tersebut membuka lapak klantingnya. Pasalnya, kakek nenek dan orang tuanya sejak dulu berjualan di tempat itu juga. Ia mengaku khawatir, jika berpindah tempat jualan. Sebab, pelanggannya tak hanya datang dari Jombang saja, namun juga luar Jombang. Seperti Yogyakarta, Solo, Kediri, Mojokerto.

“Kalau pindah-pindah, kira-kira akan berpengaruh juga. Bisa saja, pelanggan jadi bingung. Dari tahun 90-an ya berada di sini jualannnya,” sambung David.

Selain menyajikan pembelian di run away, David juga mengaku menerima pesanan tumpeng klanting. Setiap harinya, dia membuka lapaknya mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIB.

Dalam rombongnya, David tak hanya berdagang klanting. Ia juga menyediakan jajanan tradisional sebagai kombinasi. Di antaranya, lupis, ijo-ijo, dan pertulo. Per porsinya, jajanan dengan sejumlah varian ini dibandrol dengan harga Rp 5 ribu.

“Juga bisa request sesuai selera kok. Kalau penggemar klanting waktu orang tua saya dulu, yang paling diminati ya campur dari semua menu ini. Tapi yang lebih favorit, lupis,” ungkapnya.

Untuk mengolah klanting dan varian lainnya, David mengaku memasaknya sendiri dengan dibantu dua asisten. Hanya saja, asistennya ini bertugas untuk belanja dan menjaga api. Sementara olahan resepnya, dia sendiri. Menurutnya, resep tersebut merupakan turun-temurun.

Untuk pendapatan, David mengaku selama pandemi masih mampu meraup sekitar Rp 700 ribu. Atau merosot sedikit dibanding sebelum pandemi, yang berkisar Rp 900 ribu.

“Karena klanting legendaris ini sudah segmented, jadi saya merasa selama pandemi ini penurunannya hanya sedikit, sekitar 10 persen saja. Dan perbedaan dari tenor waktu sebelum dan adanya pandemi,” ujarnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait