Soto Dok, Penganan Legendaris Jombang Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Prakas, salah satu penjual soto dok di jalan Prof Buya Hamka. (Foto: Diana Kusuma Negara)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Penganan satu ini, tentu melekat di benak masyarakat Jombang, Jawa Timur. Jika Anda belum pernah menikmati kuliner legendaris ini, dijamin Anda pasti terhentak, saat botol besar berisi cairan hitam encer mirip kecap, diketok ke bantalan kayu dengan keras. Bunyi nyaring “Dok” sesaat menggetarkan hati.

Konon, bunyi dok itulah, hingga kuliner soto berlauk daging sapi ini dikenal masyarakat dengan sebutan “Soto Dok”. Hanya saja, kondisi kuliner soto yang telah ada sejak sekitar tahun 1972 di Kota Santri ini, kurang ada penerusnya. Hingga keberadaannya, bisa dihitung jari.

Baca Juga

Di sisi lain, munculnya penganan cepat saji menambah keberadaan penganan legendaris Soto Dok, makin tersisih di dunia kuliner Kota Santri.

Nah, bagaimana kondisi Soto Dok saat Covid-19 mewabah di Kota Santri?. Rupanya, penganan legendaris ini juga ikutan terdampak. Penjualannya saat dimulainya physical distancing pada akhir Maret 2020 hingga saat ini, makin menurun.

“Selama pandemi jualan turun, dari 100 porsi mungkin 25 yang masih terjual. 75 porsi lainnya nggak menentu,” ungkap Prakas (47) salah satu penjual Soto Dok di jalan Prof Buya Hamka Jombang, Sabtu (8/8/2020)

Prakas mengatakan, ia berjualan soto dok meneruskan pendahulunya. Ia merupakan generasi ketiga. Prakas juga mengaku ingin tetap mempertahankan Soto Dok menjadi salah satu kuliner legendaris Jombang.

Untuk harga soto dok, lanjut Prakas, dijualnya dengan harga Rp 10 ribu per porsi. Jika ingin menambah ‘ulam’ (Jawa: lauk) yang disediakan di piring, per lauk seharga Rp 6 ribu. “Untuk minum, adanya teh hangat, seharga Rp 2 ribu dan kerupuk sebagai pelengkap Rp 1.000,” paparnya merinci.

Selama pandemi, Prakas melanjutkan, durasi penjualan soto dok-nya ditambah lebih panjang. Mengingat, pelanggan yang mulai menurun akibat kebijakan “berada di rumah”. Biasanya, ia buka rombongnya sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Semasa pandemi, ia tutup pukul 13.30 WIB.

“Biasanya tutup jam 11.00 WIB. Itu pun sudah habis. Tapi kondisinya begini, mau nggak mau kita tambah jam bukanya. Biasanya sampai 13.30 WIB. Meski jualannya cukup lama namun pendapatannya jauh dari sebelum pandemi. Ya mau gimana lagi. Kita tetep bersyukur,” ujarnya.

Menurutnya, pelanggan soto dok jualannya ini dari segala usia, mulai anak kecil hingga orang tua. Bahkan, ada pelanggan yang dari luar Jombang.

“Biasanya anak sekolah, pekerja, karyawan, pegawai dan masyarakat umum yang ke sini. Kalau hari Minggu saat masih ada CFD, biasanya mampir sarapan di sini. Saat pandemi ini, biasanya warga yang gowes,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait