Ramadan Penuh Makna di Griya Cinta Kasih Jombang, Ratusan ODGJ Ikuti Pembinaan Rohani

Foto: Kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan di panti ODGJ Yayasan Griya Cinta Kasih (GCK), Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOGOROTO, KabarJombang.com – Suasana bulan suci Ramadan membawa nuansa khusyuk di Yayasan Griya Cinta Kasih (GCK), Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Senin (23/2/2026). Di pusat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut, ratusan penghuni tetap menjalani aktivitas harian secara teratur, disertai penguatan pembinaan spiritual.

Meski dikenal sebagai tempat rehabilitasi ODGJ, tidak seluruh penghuni berada dalam kondisi gangguan aktif. Sebagian telah dinyatakan stabil, bahkan memilih tetap tinggal untuk membantu operasional serta berbaur dengan masyarakat sekitar.

Baca Juga

Koordinator Seksi Keagamaan GCK, Bimasiatih atau akrab disapa Gus Bimas, menjelaskan bahwa pola kegiatan dasar para penghuni selama Ramadan tidak jauh berbeda dari hari biasa. Setiap pagi mereka mandi, mengikuti senam bersama, sarapan, dan beristirahat. Namun selama Ramadan, porsi kegiatan ibadah ditingkatkan.

“Dari lebih 300 penghuni, sekitar 30 orang menjalankan ibadah puasa. Mereka yang diizinkan berpuasa adalah yang kondisinya stabil dan dinilai mampu,” ujarnya.

Sepanjang Ramadan, para penghuni mengikuti salat berjamaah lima waktu. Selepas Asar hingga menjelang Magrib, kegiatan diisi pengajian yang membahas kisah serta keutamaan bulan suci.

Setelah berbuka dan salat Magrib, mereka beristirahat sebelum kembali melaksanakan salat Isya dan tarawih berjamaah. Kegiatan malam dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Pendampingan dilakukan secara intensif agar ibadah berjalan tertib dan sesuai kemampuan masing-masing individu.

Gus Bimas menegaskan, pendekatan yang diterapkan di GCK mengedepankan sisi kemanusiaan. Para penghuni dirangkul dan diajak berkomunikasi secara persuasif tanpa tekanan, sehingga lebih mudah berinteraksi dan mengikuti arahan.

Selain pembinaan rohani, penghuni juga dilibatkan dalam aktivitas produktif ringan, seperti membantu di area peternakan dan mencari pakan ternak. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi.

Dari sisi kesehatan, pemeriksaan rutin dilakukan tenaga medis setiap pekan. Pemberian obat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama bagi penghuni yang mengalami kekambuhan.

“Mayoritas penghuni memiliki latar belakang persoalan keluarga sebelum menjalani rehabilitasi. Rata-rata waktu pemulihan hingga mencapai kondisi stabil sekitar tiga tahun, meski ada pula yang tinggal lebih dari sepuluh tahun,” jelasnya.

Beberapa penghuni yang telah pulih memilih tetap mengabdi di GCK. Pengelola juga memfasilitasi pernikahan antar penghuni yang telah dinyatakan stabil secara mental.

Saat ini tersedia 12 kamar yang dibagi berdasarkan tingkat kondisi penghuni, mulai tahap pemulihan hingga yang telah mampu berinteraksi normal.

Untuk operasional harian, GCK masih mengandalkan bantuan sukarela, termasuk dukungan pemerintah. Kebutuhan konsumsi cukup besar, dengan beras mencapai sekitar 1,5 kuintal per hari.

Di tengah berbagai keterbatasan, pengelola menegaskan komitmen untuk terus memberikan pelayanan yang manusiawi dan bermartabat.

Salah satu penghuni, Anang Khoiru Iksan (48), mengaku telah menjalani pembinaan selama tiga tahun terakhir. Warga asal Jombang itu mengatakan selalu antusias mengikuti kegiatan keagamaan selama Ramadan.

“Ngaji bersama, lalu salat berjamaah. Alhamdulillah bisa ikut puasa juga,” tuturnya.

Menurut Anang, suasana Ramadan di dalam lembaga membuatnya merasa lebih tenang dan khusyuk. Ia berharap setelah menyelesaikan masa pembinaan, dirinya dapat kembali ke keluarga dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Semoga bisa kembali ke keluarga dan menjadi lebih baik ke depannya,” pungkasnya.

Berita Terkait