JOMBANG, KabarJombang.com – Pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, melakukan penelusuran terkait kelahiran Presiden pertama RI, Soekarno, yang disebut lahir pada 6 Juni 1902 di Ploso, wilayah yang saat itu masuk Karesidenan Surabaya. Dalam penelusuran tersebut, ia mengungkap sosok yang diduga sebagai saksi kelahiran, diperkuat dengan temuan foto lama bertahun 1925.
Foto bertuliskan “Koenjoengan R. Djamiloen ke Broemboeng 1925” itu ditemukan di wilayah Kabuh, Jombang. Dalam keterangan foto tercantum sejumlah nama, di antaranya Raden Djamiloen, Mbah Suro (Kek Suro), dan Buyut Ilyas yang saat itu menjabat sebagai Lurah Brumbung.
“Foto dengan tulisan ‘Koenjoengan R. Djamiloen ke Broemboeng 1925’ ini saya temukan di Kabuh, Jombang. Raden Djamiloen disebut sebagai saudara Bupati Jombang pertama, R.A.A. Soeroadiningrat V,” ujar Cak Arif, Sabtu (21/2/2026).
Identitas tokoh dalam foto tersebut, lanjutnya, diperoleh dari pemilik foto, Sulisyono Imam Jayaharja. Berdasarkan keterangan keluarga, sosok Mbah Suro atau Kek Suro diyakini sebagai Mas Kiai Suro Sentono.
Cak Arif menilai keberadaan Kek Suro dalam foto tersebut selaras dengan cerita keluarga Situs Persada Soekarno Kediri yang menyebut saksi kelahiran Bung Karno adalah seorang kakek bernama Suro. Ia menjelaskan, wilayah Ploso dan Kabuh berada di utara Sungai Brantas dan kini sama-sama masuk Kabupaten Jombang.
“Bung Karno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902. Saksi kelahirannya disebutkan Kek Suro yang berasal dari Kabuh. Secara geografis, Ploso dan Kabuh berdekatan,” jelasnya.
Untuk memastikan keabsahan informasi, Cak Arif bersama penelusur sejarah Binhad Nurrohmat melakukan klarifikasi kepada keluarga Raden Djamiloen di Sedayu, Gresik. Pihak keluarga disebut tidak memiliki foto asli, namun menyimpan lukisan masa tua Raden Djamiloen dan meyakini sosok dalam foto tersebut sesuai dengan riwayat keluarga.
Penelusuran juga dilakukan hingga Yogyakarta, tepatnya di Makam Kuncen, yang disebut sebagai lokasi pemakaman Kek Suro dan berada dalam satu kompleks dengan makam H.O.S. Tjokroaminoto. Menurut Cak Arif, Kek Suro wafat di Yogyakarta dan disebut pernah menjadi penasihat spiritual Bung Karno pada periode 1946–1949, ketika pusat pemerintahan Republik Indonesia berada di kota tersebut.
Temuan ini turut dikaitkan dengan narasi dalam buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams terbitan 1966. Dalam buku tersebut disebutkan adanya seorang “kakek yang sudah terlalu amat tua” yang menyambut kelahiran Bung Karno di tengah kondisi keluarga yang serba kekurangan.
“Siapakah kakek tua yang dimaksud dalam buku itu? Kami menduga sosok tersebut adalah Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro, yang berasal dari Kabuh dan memiliki kedekatan dengan keluarga Bung Karno,” ujarnya.
Cak Arif berharap hasil penelusuran ini dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai sejarah kelahiran Bung Karno di Ploso, yang kini masuk wilayah administratif Kabupaten Jombang.
Sebelumnya, Sosiolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari, mendesak Pemerintah Kabupaten Jombang membentuk tim kajian sejarah resmi guna menelusuri kebenaran narasi tersebut secara akademik dan ilmiah.
Menurutnya, apabila terbukti secara ilmiah, temuan ini akan berdampak strategis bagi identitas daerah. Ia menilai Jombang berpotensi semakin kokoh sebagai wilayah berkarakter nasional-religius, memadukan simbol nasionalisme dan tradisi pesantren dalam satu ruang sejarah.
Dari sisi sejarah ketatanegaraan, Mukari menyebut, jika narasi tersebut terverifikasi, Jombang akan tercatat sebagai daerah kelahiran dua presiden RI, yakni Abdurrahman Wahid dan Soekarno sebagai Presiden pertama RI.
“Karena itu perlu perhatian serius melalui pembentukan tim yang memiliki otoritas keilmuan di bidang kajian sejarah dari kalangan akademisi,” tegasnya.









