JOMBANG, KabarJombang.com — Di balik gemerlap Ludruk yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon teater rakyat Jawa Timur, ternyata tersimpan kisah panjang yang mengakar dari Jombang. Daerah ini menjadi ruang tumbuh dua kesenian rakyat awal abad ke-20 Lerok dan Besutan yang kelak memantik lahirnya bentuk Ludruk modern.
Pemerhati sejarah budaya Jombang, Nasrul Illah, mengungkap bahwa asal-usul tersebut sempat ditegaskan kembali dalam Musyawarah Ludruk se-Jawa Timur 1968 di Surabaya. Forum itu mencatat bahwa cikal bakal Ludruk dipelopori seorang petani kreatif dari Desa Plandi, Jombang, bernama Pak Santik.
“Menjelang tahun 1907, Pak Santik dikenal sebagai pengamen penuh kelakar yang tampil hanya dengan iringan bunyi mulut dan rias wajah bercoreng. Gaya khas inilah yang membuat masyarakat menyebutnya Amen Lerok,” jelas budayawan asal Jombang tersebut saat diwawancarai pada Selasa (18/11/2025).
Perjalanan seninya berkembang setelah ia berkolaborasi dengan tokoh-tokoh lokal seperti Pak Amir, P. Bolawi, serta P. Culike. Kehadiran Pak Pono sebagai pemeran komikal berperan ‘wedokan’ dengan pupur putih tebal turut memperkuat karakter penampilan Lerok.
Kelompok ini berkeliling kampung, dikenal melalui pantun semboyan jenaka, dan bertahan hingga sekitar 1915. Dari sinilah praktik Lerok bertransformasi menjadi pertunjukan Besutan yang lebih terstruktur.
Dalam bentuk barunya, Besutan menghadirkan tokoh-tokoh tetap diantaranya. Besut, sosok rakyat yang jujur dan berani, Rusmini, pasangan setia berbusana Jawa, Sumo Gambar, representasi kaum berada yang licik, Man Gondo, figur kolonial dengan riasan wajah putih.
Konflik antara Besut, Rusmini, dan Sumo Gambar membentuk dramatik utama, namun kekhasan Besutan justru terletak pada ritual pembuka. Pada tahap ini, Man Gondo membawa obor, sementara Besut berjalan merangkak dengan mata tertutup dan mulut disumbat. Adegan simbolik tersebut menggambarkan kondisi rakyat yang ‘dibungkam’ era kolonial.
Puncaknya terjadi saat Besut merebut dan memadamkan obor, menandai kebangkitan rakyat. Setelah itu, Besut menari energik di atas panggung bambu sederhana yang diterangi damar sewu. Busana putih serta tali lawe yang dikenakan Besut melambangkan kesucian dan persatuan, sementara ikat kepala merah menjadi simbol keberanian.
Besutan kemudian menyebar luas di wilayah Jombang berkat para pelaku seni seperti Sunari dari Gongseng Megaluh, Laeman, Pak Tari dari Losari Ploso, hingga Carik Raji dari Kedung Losari Tembelang. Pertunjukan mereka menjadi magnet masyarakat dan membuka jalan bagi kelahiran Ludruk generasi selanjutnya.
Menurut Cak Nas sapaan akrabnya, perkembangan inilah yang menjadi fondasi bagi Ludruk modern yang kemudian dipopulerkan berbagai maestro termasuk Cak Durasim hingga berperan dalam pergerakan nasional.
Temuan sejarah ini menempatkan Jombang tidak hanya sebagai kota pendidikan, tetapi juga sebagai poros lahirnya teater rakyat Jawa Timur. Dari tradisi ngamen seorang petani, seni pertunjukan ini berkembang menjadi medium kritik sosial yang hidup hingga saat ini.









