Bedah Buku di Kedai Kopi Jombang: Peneliti Senior Ungkap Luka Ketimpangan dan Suara Masyarakat Pinggiran

Foto: Suasana diskusi yang dihadiri oleh Dr. Riwanto Tirtosudama selaku penulis buku dan penelitian sosial dibidang sosial-politik Indonesia. (Wahyu/Kabar Jombang).
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com – Suasana Kedai Omah Cukil Coffee di Kecamatan Bareng pada Sabtu (13/9/2025) malam berubah menjadi sebuah ruang intelektual yang hangat. Puluhan orang dari berbagai latar belakang berkumpul untuk membedah buku “Mencari Indonesia 5: Ketimpangan, Ketidakadilan, dan Masyarakat Pinggiran“, langsung bersama penulisnya, Dr. Riwanto Tirtosudarmo.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu mengupas tuntas jurang ketimpangan sosial yang masih menganga di Indonesia. Dr. Riwanto, seorang peneliti senior, membuka diskusi dengan kritik tajam terhadap narasi pembangunan yang seringkali melupakan nasib rakyat kecil.

Baca Juga

“Indonesia masih dalam proses pencarian. Kita sering terjebak pada angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa siapa yang sebenarnya menikmati hasilnya. Sebuah bangsa tidak bisa disebut adil jika sebagian warganya terus-menerus dipinggirkan,” tegas Dr. Riwanto.

Menurutnya, “Mencari Indonesia” adalah sebuah sikap untuk memprovokasi diri sendiri agar berani berpikir, bersuara, dan resah dengan keadaan. Ia menaruh harapan besar pada kelompok-kelompok diskusi kecil seperti yang hadir malam itu, yang ia sebut sebagai “setitik cahaya terang di ruang yang gelap gulita.”

“Saya yakin kelompok kecil seperti ini akan terus tumbuh di Jombang. Tinggal bagaimana kita bisa mengemasnya secara komprehensif, sekalipun dianggap sebagai kelompok minoritas,” ujarnya.

Diskusi menjadi hidup ketika para peserta mulai mengaitkan isu nasional dalam buku tersebut dengan realitas lokal di Jombang.

Dedi, salah seorang peserta, menyoroti minimnya lapangan kerja di pedesaan yang memaksa banyak anak muda menjadi buruh migran dengan risiko tinggi. “Ini bukan sekadar pilihan, tapi keterpaksaan akibat ketidakadilan struktural,” katanya.

Senada dengan itu, Hermawan, seorang buruh pabrik, mengungkapkan bagaimana para buruh di Jombang seringkali tidak berani menyuarakan keresahan mereka karena takut di-PHK. “Mereka terkooptasi oleh aturan yang dibuat hanya untuk keuntungan sepihak,” ungkapnya.

Isu lain yang mengemuka adalah nasib buruh perempuan dengan upah rendah, keterbatasan akses pendidikan, hingga masalah pajak daerah, yang semuanya bermuara pada benang merah yang sama: ketidakadilan.

Donny, salah satu pengulas dalam acara tersebut, menutup diskusi dengan menekankan pentingnya ilmu sosial humaniora sebagai fondasi untuk “mencari dan menemukan Indonesia”.

“Sosial humaniora menjadi dasar fundamental kita. Mengutip Sabrang Mowo Damar Panuluh, kita saat ini sedang kehilangan sensitivitas untuk merespons gejala sosial, baik di tingkat nasional maupun lokal,” pungkasnya.

Berita Terkait