WONOSALAM, KabarJombang.com – Kabut pagi turun pelan di lereng Gunung Anjasmoro. Di balik rimbunnya hutan jati, seorang pria paruh baya tampak duduk tenang di dalam gua yang cukup besar.
Ia adalah Sudarmaji (60), sosok yang selama puluhan tahun memilih tinggal di Gua Anggas Wesi, tempat sunyi yang jauh dari hiruk pikuk dunia luar.
Hidup di dalam gua bukan hal yang lazim bagi kebanyakan orang. Namun, bagi Sudarmaji, tempat sunyi di tengah hutan jati itu adalah rumah dan sumber ketenangan.
Ia menjalani hari-hari sederhana memasak dengan tungku kayu, mandi di aliran sungai kecil, dan sesekali menyalakan radio tua untuk mendengar kabar dunia luar.
Gua yang ia tempati berada di petak 37F Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sumberjo, BKPH Jabung, KPH Jombang. Dari pusat Kota Jombang, perjalanan ke lokasi memakan waktu hampir satu jam, dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus hutan sejauh 50 meter.
Hal tersebut menjadikan alasannya memilih hidup di dalam gua yang jauh dari kota dan pemukiman. Ia mengaku tenang dan nyaman di Gua Anggaswesi
“Saya disini merasakan ketenangan tersendiri,” ungkapnya, ketika ditemui dilokasi.
Ia enggan bercerita banyak tentang masa lalunya. Hanya disebut bahwa ia berasal dari Boyolali, Jawa Tengah, dan sudah menetap di gua itu selama lebih dari satu dekade.
“Saya sudah lama di sini. Tidak tahu tepatnya kapan, yang penting saya merasa damai,” tuturnya.
Menurut pengakuannya, Gua Anggas Wesi bukan tempat sembarangan. Ia meyakini lokasi tersebut memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan cerita pewayangan Majapahit.
“Kalau dari cerita orang tua dulu, dan cerita pewayangan Majapahit, gua ini tempat bertapanya Dewa Wisnu. Dulu di kahyangan sedang kacau, dan dewa Wisnu sedang turun ke sini untuk bertapa, namun yang hanya bisa menghentikan kekacauan di kahyangan hanya dewa Wisnu, kemudian dewa Wisnu kembali ke kahyangan,” ujarnya.
Meski hidup seorang diri, Sudarmaji tidak benar-benar terputus dari dunia luar. Sesekali ia turun ke desa membeli kebutuhan pokok menggunakan motor bebek tuanya.
“Terkadang saya turun ke bawah, kadang satu bulan 2 kali, intinya tidak menentu,” ucapnya.
Setiap pagi, ia disambut kabut hutan dan kicau burung, sementara malamnya ditemani lampu minyak dan dupa yang mengepul lembut. Selain itu, ia melakukan kesehariannya seperti memasak, mandi, dan mencuci pakaian di sungai depan Gua Anggaswesi.
“Kalau malam, saya nyalakan lampu minyak dan bakar dupa. Biar hangat dan tenang. Kalau mandi dan cuci baju di sungai depan gua ini, artinya lumayan jernih,” katanya.
Dalam kesederhanaan itu, Sudarmaji menemukan makna hidup yang bagi banyak orang mungkin sulit dimengerti. Ketika ia ditanya secara rinci alasannya berdiam dan hidup di dalam gua, ia hanya melemparkan senyuman.









