JOMBANG, KabarJombang.com – Menghadapi tantangan sosial yang begitu kompleks, khususnya di kalangan generasi muda di era digital saat ini, para ulama dari jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan pemerintah Kabupaten Jombang menjalin silaturahmi strategis guna memperkuat sinergi dalam menjaga tatanan nilai dan moral masyarakat.
Pertemuan antara PCNU Jombang dengan Bupati dan Wakil Bupati Jombang berlangsung pada Selasa, 29 Juli 2025. Dialog berlangsung hangat namun penuh keprihatinan atas fenomena pergeseran nilai yang kian terasa di tengah masyarakat Kabupaten Jombang, seperti maraknya budaya pesta “sound horeg”, melemahnya adab di kalangan remaja, serta menurunnya fungsi ruang publik sebagai media pembentukan karakter.
Ketua PCNU Jombang, KH. Fahmi Amrullah Hadziq, akrab disapa Gus Fahmi, menyampaikan pandangannya secara terbuka. Gus Fahmi menegaskan bahwa upaya pelestarian nilai-nilai moral tidak boleh menghalangi kreativitas generasi muda, namun perlu adanya batasan etis yang tegas.
“Kami tidak berniat mematikan kreativitas anak muda, tetapi ekspresi mereka harus tetap berpijak pada nilai dan akhlak. Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab sosial, bukan hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam menjaga arah perkembangan generasi,” ujarnya.
Gus Fahmi menekankan pentingnya pendekatan kultural dan edukatif ketimbang pendekatan formal yang bersifat represif. Menurutnya, pendampingan yang inspiratif lebih dibutuhkan dibandingkan sekadar pelarangan yang menakutkan.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Jombang, Warsubi, menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan yang diberikan PCNU. Ia menegaskan bahwa permasalahan sosial tidak dapat diselesaikan secara instan, melainkan memerlukan kolaborasi jangka panjang yang mampu menyentuh sampai akar persoalan.
“Kami berharap sinergi ini dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan kolektif. Regulasi semata tidak cukup, perlu adanya iringan dengan ruh nilai yang menyentuh aspek spiritual dan sosial. Karenanya, kebersamaan dengan NU sangat penting dalam merumuskan arah kebijakan,” jelas Warsubi, yang juga memiliki latar belakang keNU’an dan pernah menjabat sebagai Bendahara MWC NU selama dua periode.
Pertemuan ini tidak bersifat seremonial semata, tetapi juga menghasilkan rencana konkret, antara lain, penguatan pendidikan karakter di sekolah dan pesantren, pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren, serta revitalisasi ruang publik agar tetap mencerminkan nilai-nilai Islam yang khas dari Jombang.
Wakil Bupati Jombang, KH. Salmanudin Yazid atau Gus Salman, turut menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten berkomitmen menciptakan ekosistem yang ramah bagi generasi muda, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan kearifan budaya.
Wakil Bupati Jombang, KH. Salmanudin Yazid atau Gus Salman, turut menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten berkomitmen menciptakan ekosistem yang ramah bagi generasi muda, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan kearifan budaya.
“Kami tidak melarang generasi muda untuk bersuara, tetapi suara mereka harus mencerminkan nilai. Jombang sebagai kota santri memiliki identitas yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut antara lain KH. Hasan (Rais Syuriyah PCNU), H. Ubaidillah (Sekretaris), KH. Rahmatul Akbar (Bendahara), serta sejumlah pengurus MWCNU lainnya.
Silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan menjadi langkah awal konsolidasi antara dua elemen penting, yakni keagamaan dan pemerintahan, dalam merawat moralitas dan peradaban Jombang sebagai Kota Santri, tempat lahirnya para tokoh-tokoh besar seperti Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH. Abdurrahman Wahid.









