JOMBANG, KabarJombang.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Jombang kembali menuai sorotan. Setelah sebelumnya berkali-kali dikeluhkan siswa karena kualitas makanan yang dianggap tidak layak konsumsi, kini muncul lagi kasus baru yang memantik perhatian publik.
Seorang siswa berinisial A mengirimkan dua video kepada redaksi KabarJombang.com pada Rabu (17/9/2025). Dalam video tersebut, terlihat buah jeruk yang dibagikan melalui program MBG sudah dalam kondisi busuk, bahkan berisi ulat. Tak hanya itu, menu telur yang seharusnya menjadi asupan protein bagi siswa justru berbau tidak sedap dan tampak kurang matang.
“Hari ini buah jeruknya ada ulat, kayak belatung. Ada teman yang sudah terlanjur makan sebagian, rasanya aneh. Setelah dibuka ternyata ada ulatnya. Untuk telurnya juga baunya tidak enak, seperti belum matang. Kami sudah lapor ke guru, tapi tidak ada respon,” ungkap siswa tersebut kepada KabarJombang, Jumat (19/9/2025).
Dewan Pendidikan: Kontrak Bisa Diputus, Semua Tergantung Kepala Sekolah
Menanggapi temuan ini, Hari Sukemi, Koordinator Bidang Pengawasan dan Mediasi Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, mengaku pihaknya sejak minggu lalu telah diminta mendampingi pengawasan distribusi makanan MBG. Hasilnya, mereka memang menemukan berbagai persoalan serius.
“Kita temukan jeruk bermasalah, ada juga keterlambatan pengiriman. Rekomendasi kami jelas, kontrak dengan pihak penyedia sebaiknya diputus. Tapi keputusan mutlak ada di kepala sekolah, karena sekolah adalah penerima manfaat. Berani tidaknya kepala sekolah memutus kontrak itu ?,” tegasnya.
Hari menambahkan, kasus serupa sudah berulang kali ditemukan. Pihaknya khawatir, bila terus dibiarkan, siswa berisiko keracunan akibat konsumsi makanan yang tidak layak. “Daripada siswa sakit, lebih baik diganti vendor lain yang lebih bertanggung jawab dan layak,” imbuhnya.
Di sisi lain, pihak vendor penyedia makan bergizi, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) desa kepatihan Yayasan Puspa Wijaya Abadi, membantah keras tudingan tersebut. Lilis Wijayati, perwakilan vendor, menyatakan bahwa pihaknya menjalankan pengawasan ketat dalam proses distribusi.
“Itu tidak benar. Pengawasan kami lakukan bersama Kepala Desa Kepatihan, Pak Erwin. Jadi tuduhan bahwa makanan busuk atau tidak layak itu tidak mungkin terjadi,” tegas Lilis saat dikonfirmasi KabarJombang.com.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak SMPN 1 Jombang masih belum memberikan klarifikasi resmi atas keluhan para siswanya
Kasus ini menambah panjang daftar persoalan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Jombang, yang sejatinya digagas untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan siswa. Namun jika pelaksanaannya justru menghadirkan makanan basi, busuk, atau tidak layak konsumsi, maka tujuan mulia program ini dikhawatirkan melenceng jauh dari harapan.









