PLOSO, KabarJombang.com – Sejumlah warga yang tinggal di sekitar SDN Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari kandang bebek milik sekolah.
Bau tersebut telah dirasakan selama sekitar enam bulan terakhir dan dinilai mengganggu aktivitas warga, terutama pada sore hingga malam hari.
Salah seorang warga, Anita Sari Anggraini (31), yang rumahnya berada tepat di belakang SDN Losari, mengatakan aroma kotoran bebek paling menyengat muncul ketika cuaca lembap.
“Baunya itu bau kotoran bebek yang sangat menyengat. Apalagi kalau cuaca lembap, pagi, menjelang sore, bahkan malam hari lebih terasa. Saat Maghrib sampai malam itu paling menyengat,” ujar Anita dalam keterangan yang diterima Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengganggu kenyamanan keluarga dan warga sekitar. Di lingkungan tempat tinggalnya juga terdapat banyak anak kecil serta bayi yang terdampak oleh bau tersebut.
“Di sini banyak anak kecil, ada bayi juga. Kalau malam semua pintu dan jendela harus ditutup karena baunya masuk sampai rumah,” katanya.
Anita mengaku baru menyampaikan keluhan tersebut kepada pemerintah desa pada hari yang sama. Ia berharap ada solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan warga maupun pihak sekolah.
“Kalau bisa ya dipindah. Menurut saya peternakan bebek seharusnya tidak berada dekat permukiman warga. Mau diberi saluran irigasi atau penanganan seperti apa pun, baunya tetap ada,” ujarnya.
Ia menyebut kandang bebek tersebut telah beroperasi sekitar enam bulan.
Menanggapi keluhan warga, Kepala SDN Losari, Ustadz Nasir, menjelaskan bahwa peternakan bebek merupakan bagian dari program Sekolah Adiwiyata Mandiri, khususnya untuk mendukung program Keanekaragaman Hayati (Kehati).
Menurutnya, setelah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional pada tahun lalu, SDN Losari kini mengikuti penilaian Adiwiyata Mandiri. Program peternakan bebek dikembangkan sebagai media pembelajaran bagi siswa.
“Ini dalam rangka mengikuti program Adiwiyata Mandiri. Kami punya inisiatif mengelola bebek sebagai bagian dari program Keanekaragaman Hayati. Anak-anak belajar mengambil telur, memberi makan, mencuci telur, hingga membuat olahan seperti telur asin. Hasilnya juga dinikmati anak-anak,” jelas Nasir.
Ia menegaskan peternakan tersebut tidak memiliki tujuan komersial maupun untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Enggak untuk stok MBG. Murni untuk pembelajaran anak-anak,” tegasnya.
Menurut Nasir, kegiatan tersebut diikuti siswa kelas IV, V, dan VI dalam pembelajaran kewirausahaan. Perawatan ternak dilakukan oleh siswa dengan pendampingan guru serta penjaga sekolah.
Saat ini, sekolah memelihara sekitar 50 ekor bebek. Selain pakan konsentrat, sisa makanan dari program MBG dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ternak.
Terkait keluhan bau, pihak sekolah mengaku terbuka menerima masukan warga dan berkomitmen mencari solusi agar dampak terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
“Kami bersedia menyelesaikan persoalan ini. Kami anggap sebagai tantangan. Nanti akan kami carikan solusi bagaimana agar baunya bisa diminimalisir. Memang kalau ternak, bau tidak mungkin hilang seratus persen, tetapi sekarang sudah banyak teknik beternak bebek yang bisa mengurangi bau,” kata Nasir.
Ia berharap solusi yang nantinya diterapkan dapat tetap menjaga keberlangsungan program pembelajaran sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekitar.









