KESAMBEN, KabarJombang.com – Sejumlah orang tua balita di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, memprotes kualitas menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga dalam kondisi basi, Kamis (21/5/2026). Keluhan muncul setelah penerima manfaat mencium aroma tak sedap dan mendapati rasa nasi goreng yang dinilai sudah tidak layak konsumsi.
Salah satu orang tua balita, EI, mengaku menerima menu MBG sekitar pukul 08.00 WIB. Namun saat membuka ompreng makanan, ia langsung mencium aroma tidak sedap dari nasi goreng yang diberikan.
“Tadi pas buka menu MBG itu sudah ada bau seperti mau basi. Setelah saya cicipi ternyata benar, nasinya agak lembek dan baunya tidak enak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, ia sempat meminta kader posyandu untuk ikut mencicipi makanan tersebut sekaligus menyampaikan informasi kepada para orang tua lainnya melalui grup posyandu. Namun, ia mengaku respons yang diterima justru mengecewakan.
“Saya suruh ibu kadernya mencicipi punya anak saya juga dan minta tolong diinformasikan di grup posyandu. Tapi malah diam. Saat saya menginfokan di grup, chat saya justru dihapus admin grup,” ucapnya.
EI menegaskan dirinya hanya ingin memberikan informasi kepada orang tua lain agar mengetahui kondisi makanan yang dibagikan kepada balita.
“Saya niat menginfokan itu biar semua tahu. Mau diambil atau tidak itu urusan masing-masing karena nasi gorengnya sudah mau basi dan terpenting mereka tahu kalau memang ada yang basi. Tidak malah ditutupi,” ungkapnya.
Meski demikian, menu tersebut tidak seluruhnya dalam kondisi basi. Beberapa makanan dinilai masih layak konsumsi.
“Memang benar ada sebagian menu nasi goreng yang tidak basi,” ucap EI.
Ia mengatakan program MBG di desanya baru berjalan sekitar dua pekan dan baru kali ini ditemukan dugaan makanan basi.
Keluhan serupa juga disampaikan SI, warga Kecamatan Kesamben lainnya yang enggan disebutkan identitas lengkapnya. Ia mengaku menemukan aroma tidak sedap dari menu MBG yang diterima anaknya yang masih berusia 2,5 tahun.
“Tadi jam 8 pagi saya ambil MBG. Waktu ompreng dibuka sudah ada bau dari nasinya. Awalnya saya kira karena masih panas langsung ditutup, ternyata setelah saya cicipi rasanya aneh dan memang nasinya basi,” ujarnya.
Menurutnya, secara fisik nasi goreng tersebut terlihat normal. Namun aroma dan rasa makanan dinilai tidak layak untuk dikonsumsi. Mengetahui hal tersebut Ia mengaku telah menyampaikan protes melalui kader desa sesuai mekanisme yang diarahkan pihak setempat.
“Saya protes lewat kader desa karena memang aturannya begitu,” ucapnya.
SI menyebut pihak kader desa telah merespons keluhan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf kepada para penerima manfaat.
“Iya, terima kasih atas protesnya. Nanti akan ada perwakilan yang menyampaikan ke dapur MBG untuk evaluasi bersama. Kami mohon maaf,” ujar SI ketika menirukan respons kader desa.
Hingga berita ini ditulis, konfirmasi masih terus diupayakan kepada Kepala SPPG Jombatan, Kecamatan Kesamben, serta Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Jombang, Deni Setiawan, terkait dugaan benar atau tidaknya terdapat beberapa anak-anak yang diduga terdampak akibat mengonsumsi makanan MBG tersebut.









