Pasien Covid-19 di Aparma Unipdu Jombang, Dianggap Santri

Penanggung Jawab Ruang Isolasi Aparma, KH Zulfikar As’ad. (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com- Kasus Covid-19 yang ada di Kabupaten Jombang masih menjadi polemic. Pasalnya, beberapa klaster seperti perkantoran hingga Ponpes sudah mulai bermunculan.

Penanggung Jawab Ruang Isolasi Aparma, KH Zulfikar As’ad alias Gus Ufik mengatakan, dalam penanganan pasien Covid-19 di Aparma (Apartemen Mahasiswa) Unipdu melibatkan beberapa SDM. Diantaranya dari tim kesehatan Unipdu dan untuk tenaga dokter didukung IDI Jombang.

Baca Juga

“Pasien Covid-19 di Aparma tidak hanya santri namun juga dari berbagai macam dari masyarakat, Ponpes, Puskesmas juga ada,” ujar Gus Ufik kepada KabarJombang.com, Rabu (30/9/2020).

Selain itu, penanganan pasien Covid-19 dalam Aparma sendiri juga dilakukan beberapa kegiatan untuk proses pemulihannya. Mulai dari perbaikan gizi makanan, vitamin, olahraga setiap hari, wiritan, istighosah, pengajian dan semua kegiatan pasien direkam dalam pantauan CCTV Aparma.

“Kita ingin nenanamkan bahwa garda terdepan adalah diri sendiri. Sehingga jika kita tidak ingin tertular maka kita harus menjaga diri kita masing-masing. Sementara, tim kesehatan itu benteng terakhirnya,” tekannya.

Fasilitas di Aparma dalam satu kamar terdiri dari 4 bad kamar mandi dalam dan ada yang kamar mandi luar dengan total kamar ada sekitar 100 bad.

Dikatakan, pasien yang menempati Aparma hanya pasien yang bergejala ringan hingga sedang dan jika diketahui gejalanya menengah hingga berat maka akan dirujuk ke RSUD Jombang.

Menurut Gus Ufik, mereka yang dirawat di Aparma disebut santri, jadi tidak berarti itu murni bahwa itu adalah santri.

“Meskipun dia orang umum misalnya tenaga Puskesmas kita anggap santri. Dan pasien tidak dibebankan biaya atau gratis karena tempat dan SDM disupport Pemkab,” ungkapnya.

Untuk tempatnya juga disendirikan ada dua bagi pasien positif dan negative. Artinya, yang positif tanpa adanya gejala, namun terkonfirmasi positif Covid-19. Dan yang negatif hanya ada gejala-gejala saja.

Agar pasien terdeteksi terkonfirmasi Covid-19 atau tidak dengan melihat gejala-gejalanya yang sering muncul.

“Seperti di Ponpes, jika ada santri yang mengalami gejala-gejala maka harus segera ditangani. Dan untuk mengetahui penyebabnya belum diketahui secara pasti dari mana-mananya, namun tetap melakukan tracing,” katanya.

“Untuk santri yang sudah pulih dan sehat sebagian besar kembali ke Pondok, sehingga harus sehat betul. Tapi kita minta tetap di isolasi dulu,” tandasnya.

Gus Ufik menambahkan bahwa cara paling efektif dalam mencegah penularan Covid-19 tetap pada disiplin dalam berpakai masker, berjarak dan cuci tangan.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait