JOMBANG, KabarJombang.com-Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin.
Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar, termasuk para pengemudi ojek.
Salah satunya dirasakan Rofiq, pengemudi ojek asal Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Pada Sabtu (29/8/2026), ia memilih mangkal di sekitar lokasi muktamar, tepatnya sekitar Kampus Unwaha yang menjadi Tower 5 untuk penginapan peserta serta digunakan juga sebagai tempat sidang komisi.
Rofiq mengaku sehari-hari biasanya bekerja sebagai kurir secara offline. Namun, adanya Muktamar ke-35 NU, ia mencoba peruntungan dengan menjadi tukang ojek pengantar peserta resmi muktamar ataupun penggembira.
Hal tersebut membuat pendapatannya meningkat cukup signifikan.
“Saat ada muktamar ini membantu teman-teman ojek untuk mengangkut dan mempercepat arus perjalanan mereka,” kata Rofiq saat diwawancarai pada Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, dalam kondisi normal, pendapatan sebagai kurir offline berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Namun, selama muktamar berlangsung, penghasilannya bisa meningkat hingga Rp300 ribu bahkan Rp400 ribu dalam sehari.
“Ya, kadang Rp300 ribu, Rp400 ribu lah itu pun satu hari. Kalau enggak ada muktamar ya Rp100-150 ribu,” ujarnya.
Dalam sehari, Rofiq bisa mengangkut sekitar 10 hingga 15 penumpang. Tarif yang diterapkan bervariasi, mulai dari Rp10 ribu, Rp15 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung jarak tujuan.
“Jaraknya ada yang sampai 12 kilometer, ada yang 15 kilometer,” jelasnya.
Sejumlah penumpang, kata Rofiq, bahkan memberikan ongkos secara sukarela. Namun, bagi penumpang yang ingin mengetahui tarif, ia akan menyampaikan harga berdasarkan jarak perjalanan.
Salah satu tujuan yang cukup banyak dilayani Rofiq adalah arena persidangan dan kawasan wisata religi seperti Tebuireng. Meski demikian, melayani penumpang di tengah ramainya muktamar bukan tanpa kendala.
Ia menyebut sebagian penumpang terkadang tidak mengetahui secara pasti alamat atau lokasi tujuan. Kondisi tersebut membuat pengemudi harus mencari-cari lokasi yang dimaksud.
“Susah-susah gampang, karena ada yang enggak tahu alamatnya, akhirnya kita nyari-nyari,” katanya.
Untuk menghindari perebutan penumpang antar-pengemudi, Rofiq bersama rekan-rekannya menerapkan sistem antrean. Cara tersebut dilakukan agar pelayanan tetap tertib sekaligus memberikan kesempatan yang adil bagi para pengemudi.
“Untuk antreannya saya buat sistem antrean, biar enggak rebutan,” ungkapnya.
Di lokasi tersebut, terdapat sekitar 50 pengemudi ojek yang tergabung dalam kelompok tersebut. Keanggotaan pun tidak dibatasi secara ketat. Syarat utamanya adalah bersedia menjadi pengemudi ojek dan siap melayani penumpang.
Bagi Rofiq, meningkatnya aktivitas selama muktamar menjadi tambahan rezeki bagi dirinya dan para pengemudi ojek lainnya.
“Ya, sedikit menambah rezeki lah, tambahan ekonomi,” pungkasnya.
Berkah muktamar tersebut menjadi gambaran bahwa perhelatan besar keagamaan tidak hanya memberikan ruang bagi peserta untuk bermusyawarah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal yang ikut bergerak melayani kebutuhan para tamu dan pengunjung.









