DIWEK, KabarJombang.com – Menjelang bulan Ramadan, warga Dusun Randulawang Santren, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, punya cara unik untuk menambah tabungan. Bukan lewat ATM, koperasi, atau bank umum, melainkan dari sesuatu yang selama ini sering dianggap tak berguna, yakni sampah rumah tangga.
Mereka tak lagi membakar sampah seperti kebiasaan lama. Mereka kini memilahnya dari rumah, lalu menyetorkannya ke pos ‘Bank Sampah’ yang buka sebulan sekali. Dari hasil penimbangan itulah, setiap orang memiliki saldo tabungan yang dikumpulkan hingga menjelang Ramadan.
Setiap pos buka, tumpukan sampah yang sudah dipilah rapi mulai berdatangan. Ada botol plastik, gelas air mineral, kardus, buku, mika, triplek, sampai besi dan paku. Semua ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi saldo.
Harga setiap jenis sampah mengikuti harga pengepul, botol plastik: Rp1.500/kg, kardus & buku: Rp1.500/kg, sak semen: Rp300, besi: Rp3.500/kg, paku: sekitar Rp2.000/kg.
Setelah tercatat dalam buku tabungan, seluruh sampah disetor ke pengepul untuk didata dan didaur ulang. Sejak berdiri pada Agustus 2025, total tabungan warga sudah mencapai sekitar Rp300 ribu, dan seluruh nominal itu akan dicairkan menjelang bulan puasa.
“Awalnya ini melanjutkan program KKN. Melihat banyak sampah di lingkungan warga, akhirnya kami inisiatif supaya sampah bisa menghasilkan uang. Harapannya masyarakat makin sadar sampah, lingkungan bersih, dan sampah tidak dibakar lagi lebih baik dijadikan cuan,” ujar Nina Dwi Astuti, pengelola Bank Sampah saat diwawancarai pada Kamis (20/11/205).
Bank sampah ini lahir dari keresahan para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata yang melihat penumpukan sampah di lingkungan desa. Setelah mereka kembali ke kampus, warga yang merasa programnya baik dan bermanfaat akhirnya berinisiatif untuk melanjutkan secara mandiri dengan sistem menabung dari sampah.
Mekanismenya sederhana, warga mendapat pengumuman melalui grup whatsapp, sampah dipilah dari rumah, sebulan sekali dibawa ke pos, sampah ditimbang, dicatat, lalu disetor ke pengepul, saldo tabungan dikumpulkan dan akan dibagilan menjelang ramadan.
Bagi warga, tabungan ini bukan sekadar uang tambahan. Ia menjadi berkah kecil yang terasa menjelang Ramadan waktu ketika kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat.
Program ini tidak hanya membantu ekonomi warga, tetapi juga mengubah kebiasaan lama: dari membakar sampah menjadi mengelolanya. Polusi berkurang, lingkungan lebih bersih, dan sampah yang dulu tak bernilai kini menjadi sumber rezeki.
“Harapannya masyarakat lebih sadar sampah. Tidak apa-apa punya sampah banyak, yang penting nanti bisa jadi cuan,” tambah Nina.
Menurutnya, gerakan sederhana ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan kecil. Dengan kreatifitas dan kemauan bersama, sampah pun dapat menjadi tabungan yang membawa manfaat baik untuk bumi, maupun untuk warga yang menantikan datangnya Ramadan.









