JOMBANG, KabarJombang.com – Upaya Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih kini berkembang menjadi gerakan ekonomi baru berbasis pengelolaan sampah. Melalui program pelatihan Mainstreaming dan Training of Trainers (ToT), ratusan peserta dari berbagai unsur pesantren dilatih mengolah sampah menjadi sumber pemasukan rutin.
Program yang diinisiasi P3M bersama CCEP Indonesia dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang ini diikuti 155 peserta, mulai pengurus pesantren, ustadz, santri, hingga petugas kebersihan. Mereka dipersiapkan menjadi pelatih internal yang akan menggerakkan Eco Pesantren secara berkelanjutan.
Direktur P3M, KH. Sarmidi Husna, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan semestinya menjadi bagian dari praktik keagamaan. Menurutnya, pesantren merupakan ruang lahirnya peradaban sehingga tanggung jawab dalam menjaga kebersihan dan alam tidak bisa diabaikan.
Pelatihan ini juga mendapat dukungan dari DLH Jombang yang memberikan penguatan mengenai kebijakan daerah dan sistem Bank Sampah Induk. Sementara CCEP Indonesia memfasilitasi pembinaan agar program dapat berjalan dengan standar yang terukur.
Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai materi, antara lain Fiqh al-Bi’ah, teknik pemilahan sampah, pembuatan kompos, eco-enzyme, biopori, hingga budidaya maggot BSF. Pengelolaan Bank Sampah serta potensi nilai ekonominya juga menjadi fokus penguatan.
Setiap materi disertai praktik lapangan sehingga peserta memahami alur pengelolaan sampah dari tahap hulu sampai hilir. Di akhir kegiatan, terbentuk Tim Pengelola Sampah Pesantren dengan divisi khusus mulai dari organik, anorganik, operasional, administrasi hingga edukasi.
Dalam rencana kerja yang telah disusun, sampah dari kamar santri, dapur pondok, hingga unit lembaga akan dipilah dan dicatat secara rutin. Sampah bernilai jual akan disetorkan ke Bank Sampah DLH Jombang, sementara sampah organik diolah menjadi kompos, eco-enzyme, dan pakan maggot.
Ketua Eco Pesantren Denanyar, Hilmy, mengungkap bahwa potensi ekonominya cukup besar. Menurut perhitungannya, penjualan botol PET, kardus, plastik gelas, logam, serta produk olahan organik diperkirakan menghasilkan pendapatan Rp 3,5 juta hingga Rp 7 juta per bulan.
“Besarannya cukup untuk menutup biaya operasional pesantren yang mencapai hampir Rp 6 juta,” jelasnya. Ia optimistis bila sistem berjalan konsisten, pesantren dapat mencapai kemandirian finansial.
Selain menambah pemasukan, penggunaan eco-enzyme dan kompos buatan santri membantu mengurangi pengeluaran untuk pembersih kimia dan ongkos kebersihan harian. Program ini juga memberikan keuntungan langsung bagi santri melalui skema tabungan sampah, yang mengajarkan kedisiplinan dan pengelolaan uang sejak dini.
Hilmy menegaskan bahwa gerakan ini akan menjadi model bagi pesantren lain di Jombang. Pendampingan lanjutan akan dilakukan untuk memastikan budaya pengelolaan sampah dapat tertanam kuat di lingkungan pesantren.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi langkah awal perubahan perilaku. Kami ingin menunjukkan bahwa pesantren mampu bersih, produktif, dan mandiri,” pungkasnya.









