Kesenian Singo Barong Asal Kebondalem Jombang, Berkombinasi Untuk Tetap Eksis

Sukri, pemilik sanggar seni Singo Barong ketika ditemui KabarJombang.com, di rumahnya Dusun Murangagung, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jumat (11/9/2020)
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com – Selain terkenal pusatnya pande besi, Dusun Murangagung, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, juga dikenal tempatnya kesenian tradisional jaranan Singo Barong, perpaduan seni kuda lumping bantengan dan reog.

Sukri, pemilik sanggar seni Singo Barong mengatakan, kesenian Singo Barong ini dimunculkannya pada tahun 2008. Berbarengan dengan gencar-gencarnya kesenian bantengan. Saat itu, dirinya merintis mulai dari nol. Mulai penyediaan alat musik, barongan, topeng, kuda lumping.

Baca Juga

“Saat itu, ketersediaan peralatan sangat minim. Tapi saat ini kami bersyukur telah memiliki peralatan cukup lengkap,” kata Sukri, Jumat (11/9/2020).

Sukri menjelaskan, kesenian singo barong tidak memiliki ijin induk kesenian. Karenanya, Sukri pun mengaku mengakalinya dengan memberi nama kuda lumping – bantengan dan reog.

“Berhubung ijin kesenian bantengan tidak ada di Jombang, maka kami satukan dengan kuda lumping. Jadi sekalian jalan ya kuda lumping ya bantengan singo barong,” ungkap Sukri.

Dijelaskannya, Singo Barong merupakan gabungan dari dua kata yakni singo yang berarti macan, serta barong yang berarti reog. Seperti filososinya, reog yakni gabungan dua hewan singa dengan merak. Namun Sukri lebih menekankan pada nama Singo Barong-nya.

“Singo Barong ini bisa dikatakan kesenian yang paling menonjol di Jombang. Jadi se-Jombang pasti mengetahui nya,” sautnya.

Menurutnya, karir yang dimulai pada tahun 2008 itu, membawa antusias dan penggemar yang banyak dari seni bantengan. Sehingga hingga sampai saat ini sanggar seni singo barong terus berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Sukri mengakui, seni bantengan tak semarak seperti dulu. Kini kesenian ini semakin surut penggemar. Untuk menyiasati hal tersebut, ia bersama pengelola sanggar, lebih fokus ke ragam kesenian. Seperti kuda lumping-bantengan, reog Ponorogo-an, barongan, topengan, serta inovasi lain dengan kolaborasi kesenian luar daerah Jombang.

“Jadi kita penarinya ada yang ambil dari Kediri, Nganjuk. Kalau mengandalkan lokal saja sulit berkembangnya,” imbuh Sukri.

Ia juga mengatakan, kesenian yang dipimpinnya itu memiliki ciri khas tersendiri. Yakni menggunakan kombinasi kuda lumping khas Jombang dengan sebutan “Tuk Dor”. Yakni menggunakan bedug jedor (jidor). Kemudian, saat ini ditambah juga gending Jawa atau Campursari.

Pagelaran singo barong, lanjut Sukri, menampilkan kesenian yang atraktif. Dalam satu penampilan, terdapat 6 kuda lumping, celeng berjumlah 2, bujang ganong (topeng pentulan) kucingan ada berjumlah 4, dan barongan.

Tak heran, apabila sekali tampil dengan kombinasi komplit, harga yang ditawarkan sebesar Rp 7 juta. Lengkap dengan fasilitas panggung, sound system, dan pagar untuk antisipasi bentrokan. “Namun kita juga bisa menyesuaikan harga, sesuai keinginan dan kesepakatan,” imbuhnya.

Selain diminati masyarakat Jombang, menurut Sukri, kesenian Singo Barong juga dimintai dari berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, Mojokerto, dan kabupaten lain di Jawa Timur.

Sukri berharap keseniannya ini semakin diminati oleh masyarakat luas. “Semoga aja Singo Barong ini semakin eksis, dan mampu bersaing di luar sana. Kan saat ini banyak persaingan kesenian seperti ini,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait