Hari Aksara Internasional ke-55 Tak Semarak di Tingkat Lokal, Disorot Dosen Sastra Indonesia Jombang

Dosen Sastra Indonesia STKIP dan Kepala Unit Penalaran dan Kreativitas STKIP Jombang, Anton Wahyudi, saat ditemui di ruangannya, Selasa (8/9/2020). (Foto: Anggraini Dwi S.)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September, mendapat sorotan Dosen Sastra Indonesia STKIP Jombang, Anton Wahyudi. Menurutnya, peringatan ini sebagai pengingat masyarakat Internasional tentang pentingnya melek aksara dan upaya memberantas buta huruf baik bagi individu, kelompok, dan masyarakat.

Menurut Anton, aksara merupakan sebuah mediator atau koneksi jaringan yang menghubungkan antara satu dengan lainnya. Karena, bahasa tanpa aksara tidak akan bisa. Begitu juga dengan literasi. Sehingga, aksara sangat penting untuk dipelajari dan diketahui masyarakat dari berbagai lini, khususnya bagi kaum millenial saat ini.

Baca Juga

Selain itu, lanjut Anton, peringatan Hari Aksara Internasional tahun 2020 ini akan dilaksanakan secara Webinar dan siaran langsung di sosial media Kemendikbud.

Anton juga menyayangkan, terkait peringatan hari aksara yang hanya disemarakkan oleh lingkup-lingkup tertentu. Sementara untuk kesadaran di tingkat regional atau lokal, masih dinilainya kurang antusias, dan sinergitas peringatan hari aksara masih kurang.

“Faktor penyebab kurang semaraknya peringatan seperti hari aksara ini, kemungkinan karena kebijakan, daya tangkap masyarakat dalam memaknai aksara. Dan tidak semua orang mengetahui jika hari ini adalah hari aksara,” ujar Anton kepada KabarJombang.com, Selasa (8/9/2020).

Ia juga berharap, agar pemerintah regional lebih merespon dan memperhatikan perihal peringatan hari-hari, seperti aksara. Agar masyarakat juga lebih mengenal dan memicu tingkat kepekaan akan makna aksara itu sendiri.

Anton menandaskan, dengan perkembangan IPTEK saat ini, hari aksara tidak hanya difokuskan pada permasalahan buta huruf atau aksara. Karena masyarakat saat ini mayoritas cenderung pada teknologi. Menurutnya, bagaimana cara masyarakat menyikapi beragam jenis aksara yang terus berkembang.

“Kalau tidak tahu arti aksara itu apa, manfaatnya apa, padahal aksara tidak lepas dari kehidupan sehari-hari dan selalu ada di sekitar kita, itu yang menjadi masalah,” tegas laki-laki yang juga Kepala Unit Penalaran dan Kreativitas STKIP Jombang ini.

Anton menambahkan, perspektif seseorang dalam mengartikan aksara tentu berbeda-beda dan pasti sudah femiliar dibeberapa masyarakat sehingga perlu adanya penggeloraan agar pemahaman terkait aksara lebih dikenal masyarakat.

Seperti diketahui, Hari Aksara Internasional, awalnya lahir di Konferensi Dunia Menteri Pendidikan untuk Pemberantasan Buta Aksara, yang diadakan di Teheran, Iran pada 8 September 1965.

INSTAGRAM

Berita Terkait