JOMBANG, KabarJombang.com – Kabupaten Jombang semakin mengokohkan diri sebagai salah satu sentra pangan utama di Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, produksi padi di daerah ini mengalami lonjakan signifikan hingga mengantarkan Jombang masuk jajaran delapan besar penghasil padi terbesar di provinsi tersebut.
Kenaikan produksi itu tidak lepas dari berbagai kebijakan strategis Pemerintah Kabupaten Jombang dalam memperkuat sektor pertanian, khususnya melalui penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif. Bantuan alsintan bersumber dari APBN, APBD Provinsi Jawa Timur, dan APBD Kabupaten Jombang.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Muchammad Rony, menyebut peningkatan peringkat tersebut merupakan bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjaga Jombang sebagai lumbung pangan.
“Pemanfaatan alsintan modern sangat membantu petani. Efisiensi kerja meningkat, produktivitas lahan pun ikut terdongkrak. Tahun ini Jombang berhasil naik peringkat menjadi penghasil padi ke-8 se-Jawa Timur,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Sepanjang 2025, petani Jombang menerima berbagai jenis alsintan, di antaranya 51 unit pompa air, 194 hand sprayer, 34 traktor roda dua, 40 traktor roda empat, dan 14 drone sprayer berbasis teknologi digital. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan sembilan rice transplanter dan 12 unit rotavator untuk menunjang pengolahan lahan.
Tak hanya sarana produksi, Dinas Pertanian Jombang juga mengakselerasi sejumlah program prioritas pemerintah pusat, antara lain Program Luas Tambah Tanam (LTT) yang melampaui target.
“Target LTT padi sebesar 81.251 hektare, namun realisasinya mencapai 86.701 hektare,” jelas Rony.
Program Optimasi Lahan (OPLAH) direalisasikan di area seluas 3.311 hektare, sementara Program Brigade Pangan yang menyasar generasi muda berhasil membentuk 17 kelembagaan usaha tani. Di sektor perkebunan, Program Bongkar Ratoon Tebu dilaksanakan pada lahan seluas 3.315 hektare.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi beras Jombang pada 2025 mencapai 257.942 ton, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 197.646 ton. Dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 149.237 ton, Jombang membukukan surplus beras 108.705 ton lebih dari dua kali lipat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar 49.342 ton.
“Surplus ini menunjukkan pertanian Jombang terus berkembang dan mampu menopang ketahanan pangan daerah maupun regional,” tegas Rony.
Selain fokus pada produksi, Pemkab Jombang juga mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui program “1 Dusun 1 Wirausaha Baru” yang mencakup pengembangan budidaya nilam, penangkaran benih, serta penerapan sistem budidaya tanaman sehat untuk menjaga kesuburan tanah dan menekan biaya produksi.
Kemitraan dengan pihak swasta turut diperluas melalui skema “Bapak Asuh”. Salah satunya bersama CV AFCO yang membantu penyerapan gabah petani serta mendukung pengembangan pertanian organik di Jombang.
Komitmen itu kembali ditunjukkan pada awal 2026 melalui penyaluran bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian RI kepada kelompok tani, Senin (5/1/2026), di Kantor Dinas Pertanian Jombang. Penyerahan dilakukan oleh Bupati Jombang Warsubi bersama Wakil Bupati KH Salmanudin Yazid.
Sejumlah kelompok tani menerima bantuan sesuai kebutuhan wilayahnya. Traktor roda empat tipe Ishoku ISTR 504 disalurkan kepada Gapoktan Mojokrapak, Poktan Dunglempuk, dan Gapoktan Tampingmojo di Kecamatan Tembelang. Adapun Gapoktan Manunggal di Kecamatan Ngusikan menerima traktor roda dua Quick G1000.
Bupati Warsubi menegaskan mekanisasi pertanian menjadi langkah penting di tengah keterbatasan tenaga kerja sektor pertanian.
“Dengan alsintan, proses pertanian menjadi lebih cepat, efisien, dan hasilnya lebih optimal,” katanya.
Ia meminta agar seluruh bantuan dikelola secara transparan melalui kelompok tani atau Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA), sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas.
“Ini aset bersama. Pengelolaannya harus profesional dan bertanggung jawab,” pungkasnya.








