Musim Hujan, Pemburu Jamur Barat di Bareng Jombang Ketiban Berkah

Foto: Julianto, pemburu jamur barat asal Bareng, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com – Musim penghujan membawa berkah tersendiri bagi Julianto (31), warga Dusun Banjarsari, Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Di saat banyak orang enggan ke kebun yang becek dan lembap, ia justru memanfaatkan momen tersebut untuk berburu jamur liar bernilai ekonomi tinggi.

Setiap pagi, Julianto menyusuri area kebun dan hutan untuk mencari dua jenis jamur yang banyak tumbuh saat musim hujan, yakni jamur barat dan jamur trucuk. Kedua jamur ini dikenal aman dikonsumsi, memiliki cita rasa khas, dan banyak diminati masyarakat.

Baca Juga

Jamur barat atau Lepista nebularis (Clitocybe nebularis) berukuran cukup besar dan umumnya tumbuh satu per satu di lokasi lembap, terutama di sekitar sarang rayap. Sementara jamur trucuk (Auricularia polytricha) berukuran lebih kecil, tumbuh bergerombol, dan kerap dijumpai di bawah pepohonan besar seperti bambu atau pinus.

“Musim jamur barat biasanya mulai Desember sampai Februari. Lokasinya di tempat lembap, apalagi kalau ada sarang rayap, hampir pasti ada jamurnya,” ujar Julianto saat ditemui di sela aktivitasnya, Jumat (9/1/2026).

Hasil buruannya setiap hari tidak menentu. Terkadang hanya dua kilogram, namun pada musim ramai bisa mencapai tiga hingga empat kilogram per hari. Dengan harga jual berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, aktivitas ini menjadi sumber penghasilan yang layak.

“Kalau yang masih kecil atau nerucuk bisa sampai Rp100 ribu per kilo. Yang besar biasanya Rp80–90 ribu,” jelasnya.

Sebagian jamur dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dijual ke pelanggan di wilayah Jombang. Pemasaran dilakukan secara daring melalui Facebook dan WhatsApp. Setelah dipanen, jamur dibersihkan lalu dikemas dalam kotak styrofoam kecil berisi 100 gram dan dijual seharga Rp8.000 per kotak.

Saat panen melimpah, ia bisa meraup omzet hingga Rp200 ribu per hari. Jika berlangsung konsisten selama satu bulan musim hujan, penghasilannya dapat mencapai sekitar Rp6 juta.

“Kalau dapat banyak ya tinggal dihitung. Tiga kilo dikali Rp80 ribu, sudah dua ratus ribuan per hari,” tuturnya.

Jamur barat dan jamur trucuk banyak diolah menjadi tumisan atau lauk. Di masyarakat, kedua jenis jamur ini juga dipercaya memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Meski demikian, konsumsi tetap perlu disertai kehati-hatian dan pengolahan yang benar.

Julianto mengingatkan, tidak semua jamur liar aman dikonsumsi. Menurutnya, jamur beracun memiliki ciri-ciri tertentu.

“Biasanya jamur berbahaya bagian bawahnya hitam dan ada cincinnya. Kalau jamur barat dan trucuk ini sudah dikenal orang sejak lama,” pungkasnya.

Bagi Julianto, musim hujan bukan sekadar datangnya genangan dan lumpur, melainkan menjadi momentum untuk mencari rezeki dari alam selama bisa mengenali jenis jamur dan memanfaatkannya secara bijak.

Berita Terkait