JOGOROTO, KabarJombang.com – Siapa sangka, sebuah kampung yang dulunya bernama kampung pecel di dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, kini menjelma menjadi sentra produksi tahu yang dikenal hingga luar daerah.
Julukan “Kampung Tahu” melekat erat karena hampir seluruh warganya bergelut dalam usaha produksi tahu, mulai dari skala rumahan hingga distribusi ke sejumlah wilayah di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Gresik bahkan Jakarta.
Salah satu tokoh kunci dalam perkembangan kampung ini adalah Pak Uki, seorang pelaku usaha tahu yang memulai semuanya secara konvensional dari nol. Bermodalkan keterampilan turun-temurun, beliau memproduksi tahu sendiri, menjualnya secara langsung di pasar, hingga perlahan membangun jaringan distribusi ke berbagai kota. Uniknya, alat-alat produksi tahu yang digunakan saat ini sebagian besar merupakan buatan tangan ayahnya.
“Dulu, awal-awalnya saya produksi dan jualan sendiri. Lama-lama, pesanan mulai datang dari luar kota. Sekali kirim bisa sampai 2 sampai 3 ton per hari,” ungkap Pak Uki.
Puncak keberhasilannya terlihat saat ia mampu membeli kendaraan operasional sendiri untuk pengiriman tahu, bahkan hingga ke hotel berbintang di Jakarta. Jadwal pengirimannya pun padat, dimulai sejak dini hari pukul 03.00 pagi.
Keunggulan tahu produksi Sumbermulyo tak hanya terletak pada rasanya yang gurih dan teksturnya yang bisa dipesan sesuai selera (tipis atau tebal), tapi juga karena kualitasnya yang tinggi. Harga jualnya pun bisa menyaingi produk dari kota besar.
Selain menjadi produsen, masyarakat desa juga tergabung dalam paguyuban kampung tahu yang mempererat kerja sama antarwarga. “Hampir satu kampung jadi produsen tahu. Mereka akur dan saling bantu, bukan hanya bersaing,” ujar seorang narasumber dalam wawancara.
Tak hanya memproduksi, warga juga aktif mengolah limbah produksi tahu secara mandiri. Inisiatif ini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, termasuk Pertamina dan pemerintah daerah. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah pengolahan limbah cair tahu menjadi bahan pupuk melalui sistem pipanisasi yang akan dibangun bersama mitra, rencananya akan dilaksanakan mulai bulan Agustus depan.
Kampung Tahu juga dikenal akan manajemen produksinya yang rapi dan ramah lingkungan. Ampas tahu yang tersisa dari proses produksi tidak dibuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Bahkan di belakang rumah Pak Uki sendiri terdapat peternakan yang mendukung ekonomi sirkular ini.
Dukungan pemerintah, meski belum sepenuhnya dalam bentuk kunjungan langsung dari kepala daerah, sudah mulai terlihat dari pemantauan dan koordinasi teknis yang dilakukan instansi seperti Pertamina dan aparat kepolisian. “Sudah banyak pihak yang datang, seperti dari Polres dan Pertamina. Bahkan habis sepedaan pun mereka sering mampir beli tahu di sini,” lanjut Pak Uki.
Kampung Tahu Sumbermulyo tak hanya menjadi ikon kuliner lokal, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pemberdayaan masyarakat, kemandirian ekonomi, dan kolaborasi dapat melahirkan sentra produksi yang tangguh. Harapannya, desa ini terus mempertahankan kualitas dan semangat gotong royong agar tetap menjadi simbol kebanggaan Jombang dalam industri tahu nasional.(Zizah)









